Sambut Investor China di Bangkalan, Pemuda dan Akademisi Soroti Kesiapan SDM
- 12 Agt 2026 11:16 WIB
- Sampang
Poin Utama
- Rencana pengembangan industri asal China di Kabupaten Bangkalan mendapat sambutan positif dari kalangan pemuda dan akademisi lokal.
- Pemerintah pusat telah menandatangani Strategic Cooperation Framework Agreement antara Wiraraja Madura Industrial Estate dan Guangdong (Fenyong) ASEAN Industrial Park pada 5 Agustus 2026.
- Kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi fokus utama agar investasi tidak hanya membawa kawasan industri tetapi juga lapangan kerja dan manfaat bagi masyarakat lokal.
RRI.CO.ID, Bangkalan - Rencana pengembangan industri asal China masuk ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mendapat sambutan positif dari kalangan pemuda dan akademisi. Namun, kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi perhatian agar investasi tersebut tidak hanya menghadirkan kawasan industri, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.
Pemerintah pusat sebelumnya telah menandatangani Strategic Cooperation Framework Agreement antara Wiraraja Madura Industrial Estate dan Guangdong (Fenyong) ASEAN Industrial Park di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Ris Yuwono Yudo Nugroho, dalam dialog interaktif dalam program Sampang Menyapa di RRI Sampang. Rabu, 12 Agustus 2026 menymapaikan, pengembangan kawasan industri merupakan bagian dari proses panjang transformasi ekonomi Bangkalan. Ia mengingatkan agar kawasan industri tidak menjadi enclave economy yang berdiri sendiri, tetapi memiliki keterkaitan dengan ekonomi masyarakat melalui UMKM, tenaga kerja, dan sektor usaha lokal.
“Perlu ada linkage antara industri dan ekonomi Bangkalan agar manfaat investasi dapat dirasakan masyarakat secara luas,” ungkapnya.
Dikesempatan yang sama, perwakilan Pemuda Bangkalan, Baijuri Alwi, menyambut baik rencana investasi tersebut, tetapi meminta pemerintah serius menyiapkan SDM lokal. Ia mendorong penguatan Balai Latihan Kerja (BLK), pelatihan bagi siswa SMK dan pemuda, serta sertifikasi profesional seperti Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin juga dinilai perlu dipersiapkan agar pemuda Bangkalan memiliki peluang menjadi tenaga profesional di kawasan industri itu nanti,” ujarnya.
Baijuri menegaskan pemuda tidak boleh hanya menunggu program pemerintah, tetapi harus proaktif meningkatkan kompetensi. Di sisi lain, Dr. Ris mendorong kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan industri melalui penyesuaian kurikulum, program magang, riset terapan, serta talent mapping.
Dengan konsep link and match, investasi di Bangkalan diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja dari level operator hingga teknisi, supervisor, dan manajer, sekaligus memperkuat keterlibatan UMKM serta ekonomi masyarakat lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....