Evolusi Pembayaran: Pakar Ekonomi Sebut Pedagang Madura Responsif Uang Digital

  • 24 Feb 2026 20:23 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Peralihan uang digital, pakar ekonmi sebut Pedagang kecil responsive terhadap perubahan cara pembayaran secara elektronik. Dunia finansial tengah berada di titik balik sejarah.

Berdasarkan analisis pakar ekonomi, sistem keuangan global—termasuk di Indonesia terus berevolusi mengikuti perkembangan peradaban. Dari era barter di tahun 6000 SM hingga kemunculan kartu kredit pada 1950-an, kini masyarakat memasuki babak baru: Era Uang Digital.

Menurut pakar ekonomi Universitas Trunojoyo Madura, Ris Yuwono Yudo Nugroho peralihan metode pembayaran sudah mulai beralih dalam dua tahun terakhir.

“Dua tahun lalu berdasarkan penelitian di empat kabupaten di Madura, tempat makan besar masih merasa enggan untuk menggunakan pembayaran non tunai, mereka masih mengalami kesulitan dan pembelanjaan kembali untuk stok barang karena metode pembayaran ini belum diterima untuk belanja bahan pokok,” tutur Ris Yuwono, Selasa 24 Februari 2026.

Adaptasi teknologi ini sangat bergantung pada ekosistem lokal. Riset dua tahun lalu di Madura menunjukkan bahwa 16 warung kuliner terkemuka saat itu masih fanatik dengan pembayaran tunai karena alasan kemudahan penggunaan.

Namun, kondisi tersebut kini mulai bergeser. Pakar mencatat bahwa pedagang cenderung bersifat responsif. Jika konsumen terutama Gen Z dan Milenial semakin sering meminta opsi non-tunai (seperti QRIS), maka pedagang akan mengikuti permintaan pasar tersebut.

"Saat ini, pedagang kecil di Madura sudah mulai banyak menyediakan QRIS. Terjadi lonjakan transaksi digital yang signifikan pasca-pandemi COVID-19, secara global di Indonesia pembayaran non tunai mencapai 25 miliar transaksi pada periode 2020-2023, saat ini di Madura juga mulai berkembang, pedagang martabak pun sudah menggunakan gris, pertokoan dan UMKM," tambahnya.

Bagi para pedagang, khususnya di wilayah seperti Madura, pergeseran perilaku pembeli ke arah non-tunai bukan sekadar tren, melainkan peluang sekaligus tantangan untuk tetap relevan di tengah perkembangan peradaban digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....