Momen Ramadan Dorong Inflasi Musiman
- 17 Feb 2026 13:39 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Bangkalan – Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, tren inflasi di Bangkalan dan Jawa Timur diperkirakan kembali mengalami kenaikan musiman. Hal ini disampaikan Dr. Jakfar Sadik, Dosen Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura (UTM), yang menilai pola konsumsi masyarakat menjadi faktor utama tekanan harga di wilayah Madura. Senin 16 Februari 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Maret 2025 inflasi bulanan di Jawa Timur sempat melonjak hingga 1,96 persen, dengan empat kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep) menjadi wilayah pantauan utama. Secara tahunan, inflasi saat itu tercatat 1,39 persen. Pola serupa diprediksi akan kembali terjadi pada 2026, meski tetap dalam kendali pemerintah.
Menurut Dr. Jakfar, beberapa faktor dominan yang memicu inflasi menjelang Ramadan di Bangkalan antara lain:
Tradisi toron (pulang kampung) warga Madura dari perantauan, yang meningkatkan jumlah penduduk sementara dan permintaan bahan pangan.
Lonjakan konsumsi protein seperti daging sapi dan ayam ras, yang menjadi menu utama buka bersama dan hantaran.
Budaya hantaran berupa paket beras premium, gula pasir, dan minyak goreng, yang dibeli dalam jumlah besar sehingga stok pasar cepat menipis.
Permintaan energi dan transportasi, terutama tarif angkutan antar kota serta bahan bakar, akibat meningkatnya mobilitas masyarakat.
Kenaikan permintaan emas, sebagai bagian dari tradisi menjelang Idul Fitri di Madura.
“Pola konsumsi masyarakat saat Ramadan memang berkontribusi besar terhadap tekanan inflasi. Bahan makanan, energi, transportasi, hingga perhiasan emas menjadi komoditas yang hampir selalu memicu kenaikan harga,” jelas Dr. Jakfar.
Ia menekankan pentingnya distribusi dan rantai pasok dalam menjaga stabilitas harga. “Jika distribusi lancar, stok terjaga, maka tekanan inflasi bisa dikendalikan meski ada lonjakan musiman,” tambahnya.