Sentuhan PHE WMO, Mangrove Lestari Bangkitkan Ekonomi

  • 11 Agt 2024 18:33 WIB
  •  Sampang

KBRN, Bangkalan: Berkat kehadiran dan sentuhan PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) ke Desa Labuhan, Kecamatan Sepuluh, Kabupaten Bangkalan. Kini lingkungan pesisir sekitar tertata dan terawat, hutan mangrove rimbun lestari dan bersemi, masyarakat sekitar tidak lagi menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar Negeri.

Program Pengembangan Masyarakat (PPM) berkelanjutan oleh perusahan yang bergerak di bidang minyak dan gas terus digalakkan yang akhirnya tahun 2019 diresmikan "Taman Wisata Laut Labuhan" pariwisata berbasis lingkungan fokus pada kegiatan konservasi mangrove dan terumbu karang yang terletak di Dusun Masaran, Desa setempat.

"Sebelum tahun 2013 masyarakat disini tidak ada yang peduli lingkungan, banyak pohon mangrove ditebang, abrasi disepanjang bibir pantai semakin parah, burung-burung banyak dijajah dengan cara ditembak, dijaring," kata Mohammad Syahril pengelola Taman Wisata Laut Labuhan, saat ditemui RRI.co.id. Minggu (11/8/2024).

Pria yang juga mantan TKI di Negeri Jiran Malaysia itu menjelaskan, tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar mulai tahun 2013, diawali masuknya perwakilan dari PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) datang ke Desanya untuk melakukan penghijauan penanam mangrove dalam upaya mencegah abrasi laut.

"Waktu itu perwakilan dari Pertamina mengadakan pertemuan bersama Kepala Desa (Kades) dihadiri perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk merencanakan penanaman bibit mangrove di sepanjang bibir pantai Desa Labuhan yang sudah abrasi parah," ujarnya.

Syahril yang juga tercatat perangkat Desa Labuhan oleh kepala desanya diperkenalkan kepada perwakilan perusahan yang bergerak di bidang Minyak dan Gas (Migas) bersama 9 warga lainnya untuk diikutkan pelatihan dan studi banding ke Mangrove Center Tuban (MCT).

"Awalnya saya bersama masyarakat di sini Nol tentang pengetahuan mangrove. Setelah difasilitasi oleh Pertamina untuk belajar ke Tuban tentang cara penyemaian dan metode pembibitan dan perawatan mangrove dan cemara laut, saat itulah awal mula saya dan masyarakat disini mengenal mangrove," kenang Syahril.

Seiring perjalanan waktu Program Pengembangan Masyarakat (PPM) dari perusahaan Migas yang sukses mempertahankan peraih proper emas 2023 terus bergulir, pria kelahiran 1971 bersama masyarakat desanya membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning.

Syahril yang dipercayai menjadi Ketua Pokdarwis Payung Kuning menjelaskan, setelah dirinya bersama anggotanya memperoleh ilmu dari sejumlah pelatihan yang difasilitasi PHE WMO, selain menerapkan langsung di lapangan juga dibarengi melakukan edukasi kepada masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.

"Melakukan edukasi pola masyarakat agar mempunyai kepedulian terhadap lingkungan sekitar dengan visi misi untuk perlindungan dan pemeliharaan lingkungan darat, laut dan udara. Daratnya itu melakukan penanaman mangrove dan cemara laut, udaranya perlindungan satwa, dan lautnya terumbu karang," kata pria berkaca mata itu.

Lebih lanjut Syahril menambahkan, kontribusi dari PHE WMO sesuai dengan kearifan lokal sudah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

"Dengan adanya taman wisata laut perekonomian masyarakat disini mulai tumbuh dan bangkit. Semua masyarakat dilibatkan, ada yang menjadi pelaku UKM berjualan, fasiltas pemesanan catering bagi pengunjung yang mengadakan acara, jadi perekonomian berputar disini tidak sampai keluar," ungkap Syahril.

Sementara untuk kontribusi yang berbentuk bangunan fisik dari Pertamina salah satunya berupa fasilitas bangunan gazebo untuk tempat belajar, pembangunan jembatan kayu menyusuri hutan mangrove dengan pemandangan laut lepas, pembangkit listrik tenaga hybrid dan pembangunan tangkis laut untuk penahan abrasi dibibir pantai.

"Selain kontribusi fisik, pertamina juga memfasilitasi masyarakat sekitar berbagai pelatihan, seperti catering, sablon, pembuatan kopi dari biji mangrove, sehingga masyarakat disini sudah tidak berminat lagi untuk merantau keluar Negeri," ujar pria yang sudah genap berumur 53 tahun itu.

Menurut pria dua anak itu, saat ini tercatat ada 17 jenis mangrove sejati dan 12 mangrove asosiasi yang sudah tumbuh subur di atas lahan 30 hektar dan untuk zona penanaman masih kurang 9 hektar, hamparan rimbun mangrove menjadi transit berbagai burung migran.

"Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi ternama banyak melakukan penelitian disini, sudah ada 7 koleksi skripsi yang saya punya," pungkas pria yang juga dikenal Mantri Mangrove dari Madura itu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....