Tradisi Santri Turun ke Dapur Saat Maulid Nabi
- 17 Sep 2026 22:29 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang – Suasana berbeda terlihat di Kampung Kleleng, Sampang, Madura. Di tengah persiapan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sejumlah laki-laki dan santri justru sibuk di dapur, menanak nasi dalam jumlah besar untuk hidangan para tamu.
Jika memasak nasi untuk hajatan umumnya identik dengan pekerjaan perempuan, warga di Kampung Kleleng memiliki tradisi berbeda. Para santri dan laki-laki turun langsung ke dapur, bekerja bersama di atas tungku dengan peralatan tradisional.
Bagi mereka, kegiatan tersebut bukan sekadar membantu menyiapkan makanan. Ada rasa hormat dan ikatan batin dengan pemilik hajat yang merupakan seorang ulama yang pernah menjadi guru dan mengasuh mereka saat menimba ilmu di pesantren.
Tokoh masyarakat Kampung Tembuk, Desa Madupat, H Hasan, mengatakan tradisi gotong royong seperti itu rutin dilakukan setiap peringatan Maulid maupun ketika ada hajatan warga.
"Saya pernah mondok sejak era 1970-an. Kegiatan gotong royong seperti ini selalu dilakukan setiap Maulid atau ada hajat lainnya," ujar Hasan, Kamis, 17 September 2026.
Menurut Hasan, para warga yang datang memiliki ikatan sebagai keluarga santri. Mereka berasal dari kampung yang sama dan sengaja meluangkan waktu untuk membantu menyiapkan hidangan.
"Kami ini keluarga santri yang pernah mondok dan berasal dari satu kampung, yaitu Kampung Tembuk, Desa Madupat. Kami datang secara sukarela untuk membantu sekaligus mencari keberkahan dari Maulid dan guru kami," katanya.
Suasana dapur pun terasa hangat meski kegiatan berlangsung pada malam hari. Para laki-laki bekerja bergantian, mulai dari menyiapkan beras, mengurus tungku hingga memastikan nasi matang untuk disajikan kepada para tamu.
Kegiatan sederhana tersebut menjadi gambaran kuatnya hubungan yang terbangun dari lingkungan pesantren. Hubungan antara santri dan guru tidak berhenti setelah mereka meninggalkan pondok, tetapi tetap terjaga melalui silaturahmi dan kegiatan bersama di tengah masyarakat.
Tradisi memasak secara gotong royong itu sekaligus menunjukkan bagaimana nilai kebersamaan, penghormatan kepada guru, dan semangat membantu masih hidup dalam kehidupan masyarakat Madura. Bagi para santri, turun ke dapur menjadi cara sederhana untuk menjaga tradisi sekaligus ikut memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....