Dampak Namimah (adu domba) terhadap Individu dan Masyarakat
- 25 Des 2025 06:33 WIB
- Sampang
KBRN, Sampang: Dampak merusak dari perilaku namimah atau adu domba menjadi peringatan keras bagi masyarakat karena sifatnya yang menghancurkan harmoni lebih cepat daripada sihir. Ditegaskan bahwa secara individu, pelaku adu domba akan kehilangan kepercayaan sama sekali dari lingkungan sekitarnya. Lebih dari sekadar sanksi sosial, dampak spiritualnya sangatlah berat.
“Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang gemar melakukan namimah diancam tidak akan masuk surga. Hal ini menunjukkan bahwa adu domba bukan sekadar kesalahan lisan biasa, melainkan dosa besar yang memutus rahmat Allah,” ucap Masyanto, penyuluh agama islam KUA Kecamatan Camplong. Kamis (25/12/2025).
Secara sosial, namimah berdampak pada hancurnya reputasi seseorang dan memicu perpecahan yang luas di tengah masyarakat. Tindakan ini menciptakan suasana penuh ketidakpercayaan dan ketidakstabilan, di mana individu atau kelompok saling mencurigai satu sama lain. Hubungan persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun, baik dalam ikatan keluarga, pertemanan, maupun instansi pekerjaan, bisa runtuh seketika akibat provokasi satu jam saja. Efek domino dari kebencian ini membuat masyarakat kehilangan rasa aman dan kenyamanan dalam berinteraksi sosial.
“Dampak yang paling dahsyat dari adu domba adalah kemampuannya merusak tatanan kemanusiaan dalam waktu yang sangat singkat. Mengutip kitab Tanbihul Ghafilin, dampak namimah dikatakan lebih berbahaya daripada sihir karena mampu memisahkan dua orang yang saling mengasihi hanya dalam hitungan jam, sementara sihir terkadang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Hal ini merusak keharmonisan masyarakat secara fundamental, mengubah rasa kasih sayang menjadi permusuhan sengit (al-baghdah) yang jika dibiarkan akan menjadi api fitnah yang sulit dipadamkan,” ungkapnya, mengakhiri.
Sebagai penutup, Masyanto menekankan bahwa dampak negatif namimah tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga menghancurkan martabat pelakunya sendiri di hadapan manusia dan Tuhan. Untuk menangkal dampak destruktif ini, umat Islam diimbau untuk selalu mengamalkan prinsip husnudzon (berbaik sangka) dan melakukan verifikasi informasi (tabayyun). Dengan menjaga lisan dan tidak mudah terpancing isu yang tidak jelas sumbernya, harmoni sosial serta keutuhan ukhuwah islamiyah dapat tetap terjaga dari ancaman perpecahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....