Ketahui Sebab-Sebab Perilaku Namimah (Adu Domba)

  • 25 Des 2025 06:31 WIB
  •  Sampang

KBRN, Sampang: Perilaku namimah atau adu domba menjadi sorotan serius karena daya rusaknya yang mampu menghancurkan harmoni sosial dan kemanusiaan dalam sekejap. Dalam program Mutiara Pagi di RRI Sampang, dijelaskan bahwa namimah bukan sekadar menyebarkan informasi, melainkan tindakan provokasi yang sengaja bertujuan memicu permusuhan.

Masyanto, penyuluh agama islam KUA Kecamatan Camplong menjelaskan, sebab utama dari perilaku ini sering kali bersumber dari penyakit hati, yakni hasad atau sifat dengki.

“Sebagaimana peringatan Rasulullah SAW, sifat dengki dapat memakan segala kebaikan layaknya api yang melahap kayu bakar dengan begitu cepat tanpa sisa,” ucapnya melalui sambungan telepon, Kamis (25/12/2025).

Sebab kedua yang memicu seseorang melakukan adu domba adalah adanya kebencian dan permusuhan (al-baghdah). Seseorang yang terjebak dalam rasa benci biasanya telah terperangkap dalam tipu daya setan, yang memang tidak menginginkan adanya kedamaian di antara sesama muslim maupun dalam lingkungan kerja. Setan akan terus memprovokasi manusia agar saling menjatuhkan reputasi melalui lisan. Oleh karena itu, umat Islam diingatkan melalui Surah Al-Hujurat untuk menjauhi prasangka buruk dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain demi menjaga kemurnian hubungan persaudaraan.

Sebab ketiga, dorongan untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau al-maslahatus syahsiyah menjadi sangat berbahaya. Seringkali, individu melakukan adu domba sebagai strategi untuk meraih kekuasaan, harta, atau kedudukan tertentu dengan cara membenturkan pihak-pihak lain agar saling berselisih. Fenomena ini dianggap sebagai pelanggaran berat dalam Islam, bahkan pelakunya diancam tidak akan mencium bau surga karena telah menghalalkan segala cara demi ambisi pribadi yang sesaat dan merugikan orang banyak.

Sebab terakhir yang menyebabkan seseorang terjerumus dalam dosa namimah adalah kurangnya pengendalian diri terhadap emosi dan lisan.

“Ketidakmampuan menjaga kata-kata sering kali membuat seseorang secara tidak sadar menjadi provokator yang memicu api permusuhan. Sebagai solusi, kita diajak untuk kembali mengamalkan tuntunan Rasulullah SAW agar senantiasa berkata baik atau lebih baik diam jika tidak mampu membawa manfaat,” katanya, mengakhiri.

Dengan memahami sebab-sebab ini, masyarakat diharapkan lebih waspada dan selalu melakukan verifikasi (tabayyun) atas setiap informasi guna menjaga keutuhan ukhuwah islamiyah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....