Cat Putih Tandon Air, Warna Harapan Baru di Desa Panyepen

  • 10 Agt 2026 15:13 WIB
  •  Sampang
Poin Utama
  • Prajurit TNI dan warga Desa Panyepen melakukan pengecatan tandon air raksasa secara bersama pada Senin 10 Agustus 2026 sebagai bentuk gotong royong.
  • Kegiatan ini merupakan ritual kebersamaan yang menandai akhir satu fase perjuangan dalam TMMD ke-129 Kodim 0828/Sampang.
  • Proses pengecatan bukan sekadar finishing teknis melainkan simbol kolaborasi antara prajurit TNI dan masyarakat desa dalam pembangunan infrastruktur lokal.

RRI.CO.ID, SAMPANG – Di bawah terik matahari Desa Panyepen, Kecamatan Jrengik, sebuah tandon air raksasa perlahan berubah warna. Kuas-kuas yang digenggam oleh tangan berkulit gelap milik prajurit TNI bergerak selaras dengan tangan warga desa, menyapukan cat putih bersih ke permukaan beton.

Bukan sekadar finishing teknis, proses pengecatan pada Senin 10 Agustus 2026 ini adalah ritual kebersamaan yang menandai berakhirnya satu fase perjuangan dalam TMMD ke-129 Kodim 0828/Sampang.

Serma Karnoto, sang koordinator lapangan, tidak hanya mengawasi dari jauh. Ia ikut memanjat struktur tandon, memastikan setiap sudut tertutup rata tanpa cela.

Di sebelahnya, warga desa bergantian memegang ember cat, saling melempar candaan di sela-sela kerja keras. Keringat yang menetes bukan tanda kelelahan, melainkan bukti bahwa fasilitas ini dibangun bukan untuk mereka, tapi bersama mereka.

Tandon yang semula abu-abu kusam kini bersinar putih, memantulkan cahaya matahari seolah berjanji akan mengalirkan air yang sama murninya.

Momen ini adalah manifestasi nyata dari tema “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa.” Pembangunan sumur bor dan tandon air ini merupakan program unggulan Kasad, namun jiwanya berasal dari gotong royong lokal.

Setiap sapuan kuas adalah dialog bisu antara tentara dan rakyat keamanan negara tidak hanya dijaga di perbatasan, tapi juga diciptakan melalui akses air bersih di pelosok desa.

Kebersamaan ini mengubah benda mati menjadi simbol hidup ketika TNI dan rakyat bergerak serempak, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diselesaikan.

Bagi Pak Abdus, salah seorang warga yang menyaksikan langsung, pemandangan ini lebih berharga daripada sekadar infrastruktur baru.

“Semoga bapak-bapak TNI selalu diberikan kesehatan dan tetap semangat. Kami sangat bersyukur karena pembangunan ini sangat bermanfaat bagi warga,” ucapnya dengan mata berbinar.

Kalimat sederhana itu mengandung beban emosional yang berat: rasa aman, dihargai, dan diyakini bahwa nasib mereka diperhatikan. Tandon putih itu bukan lagi sekadar penampung air ia adalah wadah kepercayaan masyarakat kepada institusi yang selama ini sering terasa jauh.

Ketika cat terakhir kering dan tandon berdiri gagah di tengah desa, ia membawa pesan yang lebih dalam daripada fungsinya sebagai sarana air bersih.

Ia adalah pengingat bahwa percepatan pembangunan tidak selalu butuh teknologi canggih atau anggaran triliunan; terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kesediaan untuk turun ke tanah, berkotor-kotor bersama, dan percaya bahwa langkah kecil yang disatukan mampu mengubah wajah negeri.

Di Panyepen, masa depan tidak datang dari langit, tapi mengalir dari tandon putih yang dicat dengan cinta dan keringat bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....