Mengendalikan Laju Inflasi di Tengah Bencana Silih Berganti
- 27 Agt 2024 10:55 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi : Kota Bukittinggi dengan pesona alam dan budaya yang kaya kerap kali menghadapi tantangan serius akibat bencana alam yang terjadi secara berulang. Bencana ini tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan infrastruktur, tetapi juga memicu lonjakan harga barang kebutuhan pokok, sehingga berujung pada inflasi.
Dalam situasi yang kompleks ini, peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bukittinggi menjadi sangat krusial dalam upaya mengendalikan laju inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi daerah. Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, atau tanah longsor seringkali mengganggu rantai pasok, merusak infrastruktur, dan menyebabkan kelangkaan barang.
Hal ini secara langsung mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan dan bahan bakar. Selain itu, meningkatnya permintaan akibat adanya kebutuhan mendesak pasca-bencana juga ikut memperparah kondisi inflasi.
Disperindag memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas harga di tengah situasi darurat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain, melakukan pemantauan harga secara intensif di pasar tradisional maupun modern untuk mengidentifikasi komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan.
“Untuk tahun 2023 - 2024 Alhamdulillah masih stabil ya. Namun, tahun 2020an saat covid itu sangat terasa inflasinya” ujar Wahyu Bestari yang merupakan Kepala Disperindag Kota Bukittinggi pada dialog program acara Menekan Laju Inflasi di 97,2 Pro 1 RRI Bukittinggi (26/8).
Perlunya membangun kerjasama dengan berbagai pihak seperti Bulog, produsen, distributor, dan pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan pasokan barang dan menjaga stabilitas harga.
“Saat kondisi sedang normal, koordinasi kami dengan stakeholder terkait intens, saat kondisi kejadian luar biasa seperti saat bencana, kami lebih intens lagi” tambahnya.
Kemudian melakukan operasi pasar dengan menjual barang kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau untuk menekan laju inflasi.
“Yang namanya petani tentu ingin harganya dijual dengan setinggi - tingginya. Nah sedangkan konsumen inginnya dijual dengan harga serendah - rendahnya. Ini seperti pisau bermata dua. Oleh karena itu, diambil harga di tengah - tengah” ujarnya.
Melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga stabilitas harga dan menghindari aksi penimbunan. Selain itu, memberikan dukungan kepada koperasi untuk meningkatkan produksi dan distribusi barang, sehingga dapat menjadi alternatif pasokan yang lebih stabil.
Dalam upaya mengendalikan inflasi, Disperindag Bukittinggi tentu menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan anggaran, kerusakan infrastruktur akibat bencana juga dapat menghambat distribusi barang dan memperlambat proses pemulihan ekonomi. Juga tindakan spekulasi oleh oknum tertentu dapat memicu kenaikan harga secara artifisial.
Inflasi merupakan masalah kompleks yang memerlukan penanganan yang komprehensif. Dengan koordinasi yang baik dengan berbagai pihak dan dukungan dari masyarakat, diharapkan upaya pengendalian inflasi di Bukittinggi dapat berjalan efektif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....