Gunung Merapi Kerap Erupsi, Masyarakat Perlu Dimitigasi

  • 21 Jul 2024 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso mengatakan Gunung Merapi sering mengalami erupsi. Dirinya mengatakan dalam sehari, gunung berada di perbatasan Yogyakarta dan Jawa tengah itu bisa mengalami erupsi sebanyak puluhan kali.

“Erupsi gunung Merapi bisa mencapai 40 kali sehari,” kata Agus, saat berbincang bersama Pro 3 RRI, Minggu (21/7/2024). Meski demikian, dirinya mengatakan erupsi Merapi selama ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu memberi dampak kepada masyarakat di sekitar lereng gunung.

Seperti erupsi yang terjadi pada Sabtu kemarin (20/7/2024) malam pukul 19.46 WIB. Gunung Merapi mengalami erupsi dengan mengeluarkan guguran lava dan awan panas.

“Erupsi Merapi Sabtu malam kemarin juga sebenarnya kecil. Guguran lavanya hanya mencapai 1,2 km,” kata Agus.

Saat ini, pemukiman penduduk, menurut Agus, berada di radius 9 km dari puncak Merapi. Lokasi ini masih berada dalam radius aman.

“Untuk radius aman erupsi Merapi itu berada di 7 km dari puncak. Jadi masyarakat saat ini masih bisa beraktivitas seperti biasa, termasuk aktivitas wisatawan di sekitar Merapi,” ucapnya.

Meski demikian, Agus tetap menghimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap aktivitas gunung Merapi. Dirinya menyebut ada potensi bahaya yang harus diwaspadai masyarakat dari erupsi gunung Merapi.

“Bahayanya adalah abu vulkaniknya. Tapi itu juga tergantung dari arah angin,” ucap Agus.

Selain abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas warga, Agus mengatakan dampak lain erupsi gunung Merapi yang harus diwaspadai berupa banjir lahar. “Masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai harus berhati-hati dengan banjir lahar, terutama saat terjadi hujan,” ucapnya.

Agus mengatakan, masyarakat selama ini telah mengetahui tanda-tanda terjadinya peningkatan aktivitas gunung Merapi. Dirinya juga menyebut masyarakat sudah sering diberikan simulasi jika terjadi erupsi terhadap gunung Merapi.

“Masyarakat itu sudah punya ilmu ‘titen’ sendiri-sendiri. Misalnya mereka mengamati perubahan perilaku hewan yang bisa menjadi tanda (terjadinya erupsi)," katanya.

“Kami juga sering mengadakan simulasi ke masyarakat. Agar mereka mengetahui langkah yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu Merapi erupsi,” ucap Agus menambahkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....