BNPB Imbau Warga-Wisatawan Jauhi Zona Bahaya Gunung Karangetang

  • 13 Jul 2026 18:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BNPB mengimbau masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas di zona prakiraan bahaya menyusul erupsi Gunung Karangetang di Pulau Siau, Sulawesi Utara.
  • BNPB mengatakan wilayah yang harus disterilkan mencakup radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua di sisi utara dan Kawah Utama di sisi selatan puncak erupsi.
  • Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas kegempaan Gunung Karangetang menunjukkan peningkatan sejak awal Juli 2026.

RRI.COMID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi rekomendasi otoritas terkait. Serta tidak melakukan aktivitas di zona prakiraan bahaya menyusul erupsi Gunung Karangetang di Pulau Siau, Sulawesi Utara.

BNPB mengatakan wilayah yang harus disterilkan mencakup radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua di sisi utara dan Kawah Utama di sisi selatan puncak erupsi. Selain itu, terdapat perluasan zona bahaya secara sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin 13 Juli 2026. "Atas kejadian erupsi Gunung Karangetang, BNPB mengimbau masyarakat di sekitar wilayah Kawasan Rawan Bencana untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait," ujarnya.

Gunung Karangetang dengan ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut (mdpl) dilaporkan mengalami erupsi dari kawah utara pada Minggu (12/7) pukul 19.14 WITA. Erupsi diawali dengan tipe strombolian atau letusan eksplosif lemah dengan tinggi kolom erupsi sekitar 100 meter.

Aktivitas tersebut kemudian memicu aliran lava sejauh 1.000 meter ke arah utara dan selatan dari kawah utara, serta sekitar 400 meter ke arah barat-barat daya. Erupsi juga disertai suara dentuman dan lontaran material pijar di sekitar kawah.

Material panas yang terlontar dari letusan sempat menyebabkan vegetasi alang-alang di sekitar puncak gunung terbakar. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sitaro memastikan kebakaran tersebut telah padam dan terkendali pada Senin pagi.

BNPB juga meminta warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang. Guna meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga kawasan pantai.

Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai potensi bahaya lanjutan berupa erupsi magmatik serta guguran awan panas yang dapat meluncur sewaktu-waktu ke arah lembah. Kondisi tersebut dipicu oleh penumpukan material lava sebelumnya yang belum stabil dan berpotensi runtuh.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas kegempaan Gunung Karangetang menunjukkan peningkatan sejak awal Juli 2026.

Pada periode 1-11 Juli 2026, tercatat 12 kali gempa guguran, 83 kali gempa hembusan, tujuh kali tremor harmonik, 32 kali tremor non-harmonik, 10 kali gempa hybrid/fase banyak, 41 kali gempa vulkanik dangkal. Kemudian, 21 kali gempa vulkanik dalam, tiga kali gempa tektonik lokal, empat kali gempa terasa pada skala I-III MMI, serta 127 kali gempa tektonik jauh.

Meski aktivitas vulkanik meningkat, status Gunung Karangetang masih berada pada Level II atau Waspada sejak awal tahun lalu. BNPB menyebut aktivitas masyarakat di sekitar gunung api tersebut masih berjalan normal.

"Meski demikian, status aktivitas gunung api paling aktif di Sulawesi ini masih dipertahankan pada Level II Waspada sejak awal tahun lalu. Dan aktivitas harian masyarakat setempat dilaporkan tetap berjalan dengan normal," kata Abdul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....