KLH Alirkan Air Sungai Pawan untuk Basahi Gambut Ketapang

  • 04 Okt 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mengalirkan air Sungai Pawan melalui jaringan kanal sepanjang sembilan kilometer
  • Langkah tersebut dilakukan untuk membasahi lahan gambut terdampak kebakaran di Desa Sungai Pelang dan Sungai Besar, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat
  • Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Kalimantan Yunus Sudaryanti mengatakan, pembasahan menjadi bagian dari penanganan kebakaran hutan dan lahan

RRI.CO.ID, Ketapang - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mengalirkan air Sungai Pawan melalui jaringan kanal sepanjang sembilan kilometer. Langkah tersebut dilakukan untuk membasahi lahan gambut terdampak kebakaran di Desa Sungai Pelang dan Sungai Besar, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Kalimantan Yunus Sudaryanti mengatakan, pembasahan menjadi bagian dari penanganan kebakaran hutan dan lahan. Ini yang kembali terjadi di Ketapang pada September 2026.

“Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan kebakaran hutan dan lahan yang kembali terjadi di Ketapang pada September 2026. Terutama pada kawasan gambut yang membutuhkan pembasahan untuk menjaga kelembapan dan mengurangi risiko kebakaran berulang,” katanya di Pontianak, Minggu, 4 Oktober 2026.

Menurutnya, pembasahan dilakukan melalui kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup melalui Balai Gambut dan Mangrove Wilayah Kalimantan. Lalu PT Arrtu Energie Resources (AER), Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Sungai Pelang dan Sungai Besar, pemerintah desa, serta instansi terkait.

Air Sungai Pawan dipompa dari titik pengambilan di sungai, kemudian dialirkan melalui jaringan kanal menuju kawasan gambut sasaran. Jalur tersebut melintasi lahan masyarakat maupun lahan milik PT AER.

“Air Sungai Pawan dipompa dari titik pengambilan di sungai, kemudian dialirkan melalui jaringan kanal sepanjang sembilan kilometer menuju kawasan gambut sasaran. Jaringan tersebut melintasi lahan masyarakat maupun lahan milik PT AER,” ujarnya.

Untuk menjaga aliran air tetap bertahan di dalam jaringan kanal, sedikitnya sembilan titik sekat kanal dan tujuh lokasi gorong-gorong disiapkan di sepanjang jalur pembasahan. Sistem tersebut diperkuat dengan satu mesin pompa induk dan dua mesin pompa pendorong, selain itu, dua embung disiapkan di lokasi pompa pendorong untuk membantu mendistribusikan air menuju kawasan gambut.

Pembangunan jaringan dilakukan secara bertahap. Mulai dari survei dan pengukuran, perizinan dan koordinasi, pemasangan mesin di tepi sungai, penyiapan embung dan sekat kanal, hingga pembersihan kanal.

“Jaringan tersebut dirancang untuk menghubungkan sumber air Sungai Pawan dengan kawasan gambut yang terdampak kebakaran. Dari dokumentasi udara, jalur pengaliran memperlihatkan bentangan kanal yang membawa air dari sungai menuju kawasan gambut,” ucapnya.

Pembasahan dinilai penting karena kebakaran pada ekosistem gambut tidak hanya berdampak pada vegetasi di permukaan. Api juga dapat merusak lapisan gambut di dalam tanah dan meningkatkan risiko kebakaran berulang.

Air yang dialirkan diharapkan dapat menjaga kelembapan gambut. Sekaligus mempertahankan ketersediaan air di kawasan terdampak kebakaran.

Keterlibatan masyarakat, pemerintah desa, perusahaan, dan instansi terkait juga menjadi bagian dari upaya pencegahan kebakaran. Penanganan tidak hanya dilakukan ketika muncul titik api, tetapi juga melalui pengelolaan kondisi lahan agar tetap basah.

“Pembasahan gambut di Desa Sungai Pelang dan Desa Sungai Besar itu. Sekaligus menjadi langkah kolaboratif untuk menjaga ekosistem gambut dan melindungi kawasan yang menjadi ruang hidup masyarakat dari ancaman kebakaran berulang,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....