Sabar Tobing Dorong Mahasiswa Jadi Pemutus Rantai Kemiskinan

  • 21 Sep 2026 01:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Founder & CEO Hive Five Dr. Sabar L. Tobing, mendorong mahasiswa untuk menjadikan pendidikan sebagai kesempatan membangun masa depan
  • Sekaligus menjadi titik awal dalam mengubah kondisi keluarga
  • Hal tersebut disampaikan Sabar dalam Kuliah Umum STIE Kalpataru Business School dan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) KBS 2026

RRI.CO.ID, Bogor - Founder & CEO Hive Five Dr. Sabar L. Tobing, mendorong mahasiswa untuk menjadikan pendidikan sebagai kesempatan membangun masa depan. Sekaligus menjadi titik awal dalam mengubah kondisi keluarga.

Hal tersebut disampaikan Sabar dalam Kuliah Umum STIE Kalpataru Business School dan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) KBS 2026. Ini bertajuk “From Learner to Business Leader”, yang berlangsung di Auditorium SETDA I Kabupaten Bogor, Senin (21/9/2026).

Dalam pemaparannya, Sabar menceritakan perjalanan hidupnya yang berangkat dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ia harus menjalani kuliah sambil bekerja sebagai buruh pabrik sebelum kemudian mulai merintis bisnis dari awal.

“Jadilah orang yang menuliskan sejarah dari keluarga, bukan hanya menyalahkan keadaan. Jadilah pemutus rantai kemiskinan, dan itu dimulai dari diri Anda, bukan dengan mengandalkan orang lain,” kata Sabar.

Menurut dia, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi merupakan sebuah privilege. Lantaran tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi mahasiswa.

“Privilege yang nyata adalah kesempatan yang ada di depan kita. Kesempatan menjadi mahasiswa juga tidak bisa didapatkan semua orang, karena itu, kesempatan ini harus benar-benar dimanfaatkan,” ujarnya.

Sabar mengatakan mahasiswa perlu memiliki visi, misi, serta tujuan yang jelas sejak memasuki perguruan tinggi. Kuliah, menurut dia, tidak seharusnya dijalani tanpa arah dan target.

“Kuliah itu harus punya target, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan harus disertai evaluasi. Menjadi mahasiswa juga harus punya visi, misi, dan tujuan yang jelas,” ucapnya.

Ia juga menekankan bahwa pola pikir bisnis tidak semata-mata berarti seseorang harus mendirikan perusahaan. Cara berpikir bisnis, kata dia, juga berkaitan dengan kemampuan membaca peluang dan menguasai bidang yang ditekuni.

“Pemikiran bisnis bukan hanya soal membangun bisnis, tetapi bagaimana kita mampu melihat peluang dan menguasai bidang masing-masing. Seperti dokter spesialis yang memiliki keahlian tertentu dibandingkan dokter umum,” katanya.

Dalam dunia kerja, Sabar mengatakan latar belakang pendidikan tetap menjadi salah satu aspek yang dilihat, namun kemampuan teknis dan daya adaptasi juga menjadi modal penting untuk bertahan di tengah perubahan industri. “Background pendidikan dilihat dalam dunia pekerjaan, tetapi skill dan kemampuan beradaptasi adalah modal Anda untuk bertahan di sebuah industri,” ujarnya.

Sabar juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan lingkungan pergaulan. Menurut dia, orang-orang terdekat dapat turut memengaruhi kebiasaan, cara berpikir, hingga arah masa depan seseorang.

“Kalau ingin tahu masa depanmu, cari tahu siapa lima orang teman terdekatmu. Karena itu, selektif memilih teman, lihat siapa yang memang mau berjuang bersama untuk menentukan masa depan,” ucapnya.

Selain lingkungan, disiplin juga menjadi salah satu hal yang ditekankannya. Menurut Sabar, kebiasaan besar dapat dibangun dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Disiplin itu dimulai dari hal kecil. Bangun pagi, kemudian rapikan tempat tidur sendiri, dari kebiasaan sederhana itu kita belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri,” katanya.

Ia juga meminta mahasiswa berani mengorbankan sebagian kenyamanan dalam proses mengejar cita-cita. “Korbankan kenyamanan Anda sementara untuk meraih kesuksesan. Tidak semua proses akan nyaman, tetapi setiap orang harus menentukan apa yang ingin diperjuangkan,” ujarnya.

Menurut Sabar, keberadaan mentor juga memiliki peran dalam perjalanan seseorang, terutama dalam dunia usaha. Mentor dapat membantu memberikan arah dan perspektif ketika seseorang menghadapi pilihan maupun tantangan.

“Dalam dunia bisnis kita perlu mentor untuk mengarahkan kita ke arah yang benar,” katanya. Sabar mengaku selalu memiliki optimisme terhadap mahasiswa setiap kali mendapat kesempatan mengajar.

“Di setiap saya mengajar, saya percaya akan ada mahasiswa yang luar biasa dan sukses. Yang membedakan adalah siapa yang mau memanfaatkan kesempatan, terus belajar, dan berjuang,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....