Pipa Suntik Gambut, Inovasi Pemadaman Karhutla dari Bawah Permukaan
- 18 Sep 2026 16:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mengancam berbagai wilayah di Indonesia.
- Asap dari kebakaran hutan Indonesia telah menyebar ke lima negara tetangga: Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina.
- Malaysia menjadi negara pertama yang terdampak asap karhutla Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengancam berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan asapnya sudah menyelimuti negara-negara tetangga.
Malaysia menjadi negara pertama kali terdampak asap karhutla. Asap terus menyebar hingga mencapai Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Penanganan karhutla membutuhkan strategi berbeda, terutama ketika api merambat dan menyimpan bara di bawah permukaan lahan gambut. Melansir dari laman Humas Polri, karakter gambut yang tebal memungkinkan bara tetap menyala dan kembali memunculkan api ke permukaan.
Di Kalimantan Selatan, misalnya, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api yang sudah muncul. Pada 16 September 2026 lalu, petugas menggunakan Nozel Suntik Gambut (peat injector) untuk menjangkau sumber panas di bawah tanah.
Salah satu metode yang dikembangkan untuk menghadapi kondisi tersebut ialah pipa suntik gambut. Pipa suntik gambut merupakan saluran khusus yang petugas arahkan menuju bagian dalam tanah untuk membasahi titik panas.
Pipa suntik juga tidak bekerja sebagai metode tunggal dalam penanganan kebakaran lahan gambut. Melansir dari DPI Pemadam, metode ini dapat digunakan bersama pendinginan permukaan, peat nozzle, serta sistem distribusi air.
Dalam penerapannya, petugas terlebih dahulu menentukan titik yang membutuhkan pembasahan berdasarkan kondisi lahan dan keberadaan bara. Setelah itu, petugas menancapkan pipa khusus hingga mencapai lapisan gambut yang menjadi lokasi sumber panas.
Air kemudian mengalir melalui pipa menuju bagian dalam tanah sehingga pembasahan tidak hanya berlangsung pada permukaan lahan. Metode ini juga menggunakan cairan khusus berbahan Methyl Ester Sulfonate atau MES.
MES membantu meningkatkan kemampuan pembasahan sehingga air dapat menjangkau bagian gambut yang menyimpan bara secara lebih optimal. Cairan surfaktan tersebut membantu mempercepat pendinginan dan mengurangi potensi munculnya kembali api.
Petugas turut menggunakan kolam bioflok sebagai penampungan air pada sejumlah lokasi strategis. Kolam tersebut membantu menyediakan sumber air yang lebih dekat dengan titik kebakaran sehingga proses pemadaman dapat berlangsung lebih cepat.
Setelah penyuntikan, petugas tetap perlu memeriksa kembali area untuk memastikan tidak ada titik panas yang masih tersisa. Pemeriksaan ulang dan mop-up menjadi bagian penting setelah aplikasi air pada titik panas di bawah permukaan.
Efektivitas metode bergantung pada kondisi lapangan, termasuk kedalaman titik panas, tekanan pompa, aliran air, dan jarak sumber air. Oleh karena itu, seluruh komponen sistem harus disesuaikan agar air dapat mencapai zona panas yang menjadi sasaran. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....