JPS Minta WTE ITF Sunter Dikaji Mendalam agar Tak Timbulkan Masalah Baru

  • 29 Agt 2026 16:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • JPS meminta agar kajian tentang fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE) di Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara dilakukan secara Komprehensif.
  • Kajian mendalam dinilai penting agar pengoperasian fasilitas tersebut tidak justru menimbulkan persoalan baru di kemudian hari, khususnya terkait lingkungan dan kesehatan masyarakat.
  • Pengalaman pengoperasian fasilitas pengolahan sampah di RDF Plant Rorotan dinilai dapat menjadi bahan evaluasi dalam menyiapkan ITF Sunter.

RRI.CO.ID, Jakarta - Jakarta Public Service (JPS) meminta agar kajian tentang fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE) di Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara diperkuat. Kajian mendalam dinilai penting agar pengoperasian fasilitas tersebut tidak justru menimbulkan persoalan baru di kemudian hari, khususnya terkait lingkungan dan kesehatan masyarakat.

"Pemprov DKI Jakarta perlu melakukan kajian mendalam sebelum fasilitas WTE dioperasikan. Terutama terkait aspek lingkungan, teknologi, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan residu hasil pengolahan sampah," kata Direktur Eksekutif JPS, M Syaiful Jihad di Jakarta, Sabtu 29 Agustus 2026.

Menurut Syaiful, pengalaman pengoperasian fasilitas pengolahan sampah di RDF Plant Rorotan dapat menjadi bahan evaluasi dalam menyiapkan ITF Sunter. Ia menilai persoalan lingkungan dan keluhan masyarakat yang muncul dalam pengoperasian RDF Plant Rorotan menunjukkan bahwa aspek pengendalian dampak harus diperhatikan sejak tahap perencanaan.

"Jangan sampai kita memiliki fasilitas pengolahan sampah, tetapi kemudian muncul persoalan baru di lingkungan sekitar. Karena itu, analisis mengenai dampak lingkungan harus benar-benar dilakukan secara komprehensif dan terbuka," ujarnya.

Syaiful mengatakan Pemprov DKI sebelumnya telah melakukan sejumlah langkah pengendalian dampak lingkungan di RDF Plant Rorotan. Langkah tersebut antara lain memperkuat sistem pengendalian emisi dan menambah perangkat penetral bau.

Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyatakan pengangkutan sampah menuju fasilitas tersebut menggunakan truk compactor tertutup untuk mengurangi potensi bau dan ceceran air lindi. "Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga menyatakan pengangkutan menuju fasilitas tersebut menggunakan truk compactor tertutup untuk mengurangi potensi bau dan ceceran air lindi," ucap Syaiful.

Ia menilai berbagai pengalaman tersebut harus menjadi pembelajaran dalam menyiapkan pengoperasian ITF Sunter. Kajian, lanjutnya, tidak boleh hanya menghitung kapasitas pengolahan dan produksi energi.

Pemerintah juga perlu memperhitungkan dampak terhadap udara, air, tanah, lalu lintas pengangkutan sampah. Hingga kondisi sosial masyarakat di sekitar fasilitas.

ITF Sunter diketahui memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.200 ton sampah per hari dengan menggunakan teknologi WTE. Fasilitas tersebut diproyeksikan dapat mengolah sampah menjadi energi listrik sekaligus mengurangi volume sampah secara signifikan.

"Pemprov DKI Jakarta menyebut kapasitas tersebut dapat mereduksi volume sampah lebih dari 80 persen dan menghasilkan listrik hingga 35 megawatt (MW). Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai Rp5,3 triliun," kata Syaiful.

Dengan kapasitas 2.200 ton per hari, menurut Syaiful, ITF Sunter secara teoritis dapat menangani sekitar 27-29 persen timbulan sampah Jakarta yang berada di kisaran 7.700-8.000 ton per hari. "Artinya, fasilitas tersebut berpotensi memberikan kontribusi cukup besar dalam mengurangi beban pengelolaan sampah, meski tidak dapat menjadi satu-satunya solusi," ujarnya.

Harus Diiringi Pengurangan Sampah

Syaiful juga menegaskan pembangunan fasilitas WTE harus berjalan beriringan dengan kebijakan pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber.

Ia mendukung langkah Pemprov DKI Jakarta mencari solusi terhadap persoalan sampah, mengingat volume sampah yang dihasilkan Jakarta masih sangat besar.

"Upaya pemerintah dalam mencari solusi terhadap persoalan sampah Jakarta perlu didukung," kata Syaiful. Ia menyebut rencana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk merealisasikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi perlu mendapat dukungan.

Menurutnya, kondisi volume sampah Jakarta membutuhkan penanganan di luar pola pembuangan ke tempat pemrosesan akhir. "Kondisi ini membutuhkan penanganan di luar pola pembuangan ke tempat pemrosesan akhir," katanya.

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta, volume sampah Jakarta berada pada kisaran 7.700-8.000 ton per hari. Sementara itu, timbunan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang telah mencapai sekitar 55 juta ton.

Kondisi tersebut, kata Syaiful, menunjukkan perlunya fasilitas pengolahan sampah yang mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan manfaat lain.

"Upaya untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta tentu harus kita dukung. WTE bisa menjadi salah satu solusi karena sampah tidak hanya dibuang, tetapi juga diolah dan dimanfaatkan menjadi energi," ujarnya.

Syaiful berharap rencana pengaktifan kembali ITF Sunter dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan transparansi. Pemprov DKI Jakarta juga diminta melibatkan masyarakat serta memastikan seluruh standar lingkungan dan pengendalian emisi dipenuhi sebelum fasilitas tersebut beroperasi.

"WTE jangan sampai hanya menjadi proyek infrastruktur pengolahan sampah. Tetapi benar-benar menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah Jakarta yang berkelanjutan," kata Syaiful.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....