BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca untuk Atasi Karhutla di Enam Provinsi
- 29 Agt 2026 10:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BNPB mencatat hotspot karhutla tersebar di enam provinsi, yakni Kalbar, Kalteng, Kalsel, Sumsel, Riau, dan Jambi.
- BNPB terus memverifikasi hotspot di lapangan untuk memastikan titik api segera ditangani, terutama di wilayah gambut dan sulit dijangkau.
- BMKG melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengoptimalkan pemadaman dengan memanfaatkan awan potensial sesuai kondisi atmosfer.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut terdapat hotspot atau titik panas di sejumlah lokasi terdampak karhutla di Indonesia. Hotspot tersebut tersebar di enam provinsi yang mengalami dampak kebakaran hutan dan lahan.
"Hotspot terpantau di enam provinsi prioritas. Diantaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi," ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan dalam keterangan pers yang diterima RRI, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, tak semua hotspot ini merupakan kebakaran. Tim lapangan terus melakukan verifikasi untuk mengetahui titik kebakaran atau fire spot dan langsung ditangani sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran.
"Kalau masih ada api, tentu berarti pekerjaan kita belum selesai, tetapi bukan berarti tidak ditangani. Tantangannya adalah kondisi lapangan yang dinamis, terutama di lahan gambut, lokasi yang sulit dijangkau, dan perlunya pendinginan setelah pemadaman," ucapnya.
Pelaksana tugas (Plt) Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani mengatakan pihaknya sudah melakukan beberapa kali operasi modifikasi cuaca (OMC). Ia mengatakan bahwa OMC dilakukan untuk mengoptimalkan pemadaman.
"OMC telah dilakukan beberapa kali di wilayah rawan karhutla. Dimana pelaksanaannya menyesuaikan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial," katanya.
Ia menambahkan, OMC dapat dilakukan sepanjang kondisi atmosfer mendukung dan awan potensial yang memadai. OMC tidak menciptakan hujan dari atmosfer yang kering atau tanpa awan.
"OMC mengoptimalkan proses pertumbuhan awan dan pembentukan hujan dari sistem awan yang sudah tersedia. Efektivitasnya bergantung pada ketersediaan dan karakteristik awan, kelembapan dan labilitas atmosfer, profil suhu, proses pengangkatan massa udara," ucapnya, menjelaskan.
Pelaksanaan OMC, kata dia, didasarkan pada analisis cuaca dan potensi pertumbuhan awan secara real-time. BMKG terus memantau kondisi tersebut melalui satelit, radar cuaca, pengamatan udara atas dan model prediksi cuaca.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....