Ditjen Intram dan JICA Perkuat Integrasi Transportasi Publik Jabodetabek

  • 27 Agt 2026 10:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ditjen Intram Kemenhub dan JICA menjalin kerja sama teknis selama 36 bulan untuk memperkuat integrasi transportasi publik Jabodetabek
  • Proyek mencakup peningkatan perencanaan transportasi pengumpan, simpul antarmoda, serta penyusunan model bisnis dan skema pendanaan
  • Pilot study direncanakan di Bekasi, Tangerang Selatan, dan/atau Kabupaten Tangerang untuk menguji metodologi perencanaan transportasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Ditjen Intram Kementerian Perhubungan bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) memperkuat integrasi transportasi publik Jabodetabek. Kerja sama teknis tersebut berlangsung 36 bulan melalui ‘Project for Improvement of Public Transportation in Jakarta Metropolitan Area’.

Proyek ini ditujukan untuk memperkuat perencanaan transportasi sekaligus mendorong penggunaan transportasi umum oleh masyarakat. Kerja sama tersebut ditandai penandatanganan Record of Discussions atau R/D di Kantor Ditjen Intram, Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.

Melalui proyek tersebut, kedua pihak akan meningkatkan kapasitas perencanaan transportasi pengumpan atau feeder serta simpul transportasi antarmoda. Proyek juga mencakup penyiapan model bisnis dan skema pendanaan untuk mendukung keberlanjutan transportasi publik.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Risal Wasal menyebut kerja sama tersebut sebagai langkah konkret pengembangan transportasi publik. Sistem transportasi diharapkan semakin terintegrasi, aman, andal, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

“Kawasan Metropolitan Jakarta merupakan pusat pertumbuhan ekonomi nasional dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi. Karena itu, kita perlu memperkuat integrasi transportasi publik agar masyarakat semakin mudah dan nyaman menggunakan transportasi umum,” ujar Risal saat penandatanganan Record of Discussions atau R/D di Kantor Ditjen Intram, Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.

Risal menjelaskan proyek tersebut memiliki tiga keluaran utama yang menjadi fokus kerja sama antara Indonesia dan JICA. Keluaran pertama berupa peningkatan kapasitas perencanaan transportasi pengumpan melalui rencana layanan feeder dan buku panduan operasional.

Keluaran kedua mencakup perencanaan simpul transportasi antarmoda atau intermodal transport hub yang responsif gender. Keluaran ketiga berupa penyusunan model bisnis, skema pendanaan, pembagian peran, dan rekomendasi kebijakan.

Sebagai bagian implementasi proyek, pilot study akan dilakukan pada sejumlah wilayah kandidat di sekitar Jakarta. Wilayah tersebut meliputi Kota atau Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang Selatan, dan/atau Kabupaten Tangerang.

Pilot study digunakan untuk menguji dan memvalidasi metodologi perencanaan sebelum diterapkan dalam skala lebih luas. Penyusunan R/D dilakukan setelah Detailed Planning Survey dan penandatanganan Minutes of Meeting atau MoM pada Desember 2025.

Dokumen R/D juga telah melalui penelaahan teknis dan hukum bersama instansi terkait sebelum pelaksanaan proyek. Ditjen Intram akan memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan proyek bersama berbagai pemangku kepentingan.

Koordinasi dilakukan melalui Joint Coordinating Committee atau JCC yang melibatkan sejumlah instansi dan pemerintah daerah. Pihak tersebut mencakup Ditjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian, pemerintah daerah se-Jabodetabek, serta operator transportasi publik.

Risal menegaskan pengembangan transportasi publik tidak hanya berorientasi pada konektivitas antarmoda. Aspek inklusivitas dan keberlanjutan juga menjadi perhatian dalam merancang integrasi transportasi kawasan Jabodetabek.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap desain integrasi transportasi memperhatikan kesetaraan gender, kebutuhan kelompok rentan. Serta efisiensi layanan yang dapat berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca,” ucap Risal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....