PKM Universitas Sahid Bekali Guru dan Siswa Hadapi Tantangan Komunikasi Digital
- 19 Agt 2026 10:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan 36 Universitas Sahid Jakarta menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Pondok Pesantren Al Wathoniyah Pusat Putri, Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.
- Mengusung tema “Speak Up, Show Up, Level Up!”, kegiatan diikuti 40 peserta, terdiri dari 20 guru dan 20 siswa.
- Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus upaya mendekatkan ilmu komunikasi dengan kebutuhan masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kemampuan komunikasi di lingkungan sekolah kini tidak cukup hanya dengan keterampilan berbicara di depan umum. Di tengah derasnya arus informasi digital, guru dan siswa dituntut mampu membangun kepercayaan, mengelola informasi, memahami risiko digital, serta berkomunikasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Semangat tersebut menjadi dasar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan 36, Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta, di Pondok Pesantren Al Wathoniyah Pusat Putri, Jakarta, Sabtu,15 Agustus 2026.
Mengusung tema "Speak Up, Show Up, Level Up!", kegiatan tersebut diikuti 40 peserta yang terdiri atas 20 guru dan 20 siswa. Untuk menyesuaikan kebutuhan peserta, pelatihan berlangsung secara paralel dalam dua kelas.
Perwakilan tim P2M Doktoral Ilmu Komunikasi, Asep Sugiarto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa kepada masyarakat.
"P2M ini merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilakukan oleh mahasiswa. Karena itu, mahasiswa memiliki tanggung jawab dan kepekaan sosial kepada masyarakat," ujar Asep.
Pimpinan Yayasan Al Wathoniyah, Ustad Ahmad Rifa’i, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan mahasiswa doktoral dari berbagai latar belakang profesi dapat memberikan manfaat bagi guru maupun siswa.
"Kami sangat gembira dan menyambut dengan tangan terbuka kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Materi yang disampaikan para mahasiswa doktoral yang berasal dari berbagai profesi akan sangat bermanfaat bagi para guru dan siswa," katanya.
Guru Tak Hanya Mengajar
Pada kelas guru, peserta mendapatkan materi mengenai peran guru sebagai komunikator sekaligus bagian penting dari wajah institusi pendidikan. Christina Magdalena Haryono membawakan materi mengenai strategi marketing sekolah Islam di era digital.
Ia menekankan bahwa pemasaran sekolah bukan semata persoalan promosi. Namun, bagaimana sekolah mengomunikasikan nilai, pengalaman pendidikan, dan membangun kepercayaan masyarakat.
Perspektif tersebut diperkuat Widya Sastra melalui materi "Guru sebagai Public Relations Sekolah". Guru dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa maupun orang tua.
Dalam konteks tersebut, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga komunikator, pembangun citra positif, penghubung antara sekolah dengan masyarakat. Sekaligus, agen yang dapat memperkenalkan berbagai praktik baik sekolah kepada publik.
Penggunaan media sosial juga menjadi perhatian. Guru diingatkan agar tetap memperhatikan etika komunikasi serta menjaga privasi siswa ketika membagikan informasi atau aktivitas sekolah di ruang digital.
Sementara itu, Melani Indra Hapsari melalui materi "Public Speaking for Digital Learning" mengajak guru menyesuaikan kemampuan komunikasi dengan perkembangan teknologi.
Berbicara di depan kamera, membuat video pembelajaran, menggunakan media sosial, hingga menyampaikan materi melalui platform digital membutuhkan struktur pesan, penggunaan vokal, visual, serta gaya penyampaian yang sesuai dengan karakter masing-masing media. Teknologi, dalam hal ini, tidak diposisikan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai sarana untuk mempertahankan kehadiran dan interaksi guru dalam proses pembelajaran.
Materi lainnya disampaikan Riska Ramdani mengenai peran guru sebagai komunikator literasi keuangan digital. Guru diajak memahami perkembangan pembayaran digital, e-wallet, QRIS, paylater, hingga berbagai layanan finansial yang membawa kemudahan sekaligus risiko, seperti penipuan, phishing, dan penyalahgunaan data.
Siswa Didorong Menjadi Pengguna Digital yang Kritis
Di kelas siswa, materi dirancang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Salah satunya mengenai pendidikan politik bagi pemilih pemula yang disampaikan Iwan Setiawan.
Para siswa diajak memahami bahwa politik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik berkaitan dengan keputusan yang menentukan arah kehidupan masyarakat dan masa depan bangsa.
Selain memahami informasi politik, siswa juga dibekali kemampuan memeriksa rekam jejak calon, menolak politik uang, serta mewaspadai hoaks dan disinformasi.
Sementara Yustisia Ditya Sari membahas personal branding di media sosial. Siswa diajak melihat media sosial bukan sekadar ruang untuk tampil, melainkan tempat membangun rekam jejak digital melalui minat, karya, kompetensi, dan karakter.
Personal branding ditekankan bukan sebagai pencitraan. Tetapi, kemampuan menghadirkan diri secara autentik dan konsisten.
Materi literasi dan inklusi keuangan bagi Generasi Z disampaikan Yoseph Hari Pramono. Dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian siswa, peserta diajak memahami cara mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan finansial.
Sementara Abdi Darnain melalui materi "Would You Speak Up? Before It’s Too Late" mengajak siswa memahami arti keberanian berbicara.
Menurut dia, speak up tidak selalu berarti tampil di depan banyak orang. Dalam kehidupan sehari-hari, keberanian berbicara dapat diwujudkan dengan bertanya ketika ragu, meminta klarifikasi, menolak tekanan, maupun mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang berisiko.
Dilengkapi Perangkat Podcast
Tidak berhenti pada pelatihan, Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan 36 Universitas Sahid juga menyerahkan seperangkat peralatan podcast kepada SMK Al Wathoniyah Pusat Putri Jakarta. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi sarana bagi guru dan siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mempraktikkan keterampilan komunikasi yang diperoleh selama kegiatan.
Podcast dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sekolah, seperti produksi materi pembelajaran, diskusi siswa, wawancara dengan guru maupun siswa berprestasi, konten literasi, dokumentasi kegiatan, hingga publikasi praktik baik sekolah.
Bagi siswa, fasilitas tersebut membuka kesempatan untuk beralih dari sekadar konsumen media menjadi produsen media. Mereka dapat belajar menentukan tema, melakukan riset sederhana, menyusun pertanyaan, melakukan wawancara, berbicara di depan mikrofon, bekerja dalam tim, hingga menghasilkan konten edukatif.
Sementara bagi guru, podcast dapat menjadi alternatif media pembelajaran sekaligus sarana memperluas komunikasi pendidikan di luar ruang kelas.
Membawa Ilmu Komunikasi Lebih Dekat
Melalui kegiatan tersebut, Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan 36 Universitas Sahid berupaya membawa kajian komunikasi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Kemampuan berbicara dipertemukan dengan kebutuhan pembelajaran. Public Relations dikaitkan dengan hubungan sekolah, guru, siswa, dan masyarakat. Personal branding diarahkan pada pengelolaan identitas digital, sementara literasi politik diperkuat dengan kemampuan mengenali hoaks dan disinformasi.
Literasi keuangan pun ditempatkan sebagai bagian penting dari kemampuan generasi muda dalam mengambil keputusan di tengah perkembangan ekonomi digital. Seluruh materi tersebut bertemu dalam semangat "Speak Up, Show Up, Level Up!"
Speak Up mendorong peserta berani menggunakan suara dan menyampaikan gagasan. Show Up mengajak mereka hadir dengan kompetensi dan nilai positif. Sementara Level Up menjadi semangat untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas.
Perpaduan pelatihan dan pemberian fasilitas podcast diharapkan membuat kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu hari pelaksanaan. Program ini menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem komunikasi sekolah yang lebih kreatif, kritis, terbuka, dan produktif.
Dengan demikian, guru dan siswa tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu menggunakan komunikasi sebagai kekuatan untuk belajar, membangun kepercayaan, dan menghadapi tantangan digital. Serta, menghasilkan karya yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....