OMC di Kawasan Karhutla Bromo Belum Bisa Dilakukan, Ini Kendalanya
- 10 Agt 2026 17:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, belum dapat dilaksanakan.
- Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut Satyawan Pudyatmoko mengatakan, pelaksanaan OMC terkendala kondisi atmosfer.
- Kemenhut bersama pihak terkait saat ini masih melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran. Guna mencegah api meluas ke wilayah lain di kawasan TNBTS.
RRI.CO.ID, Jakarta - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, belum dapat dilaksanakan. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut Satyawan Pudyatmoko mengatakan, pelaksanaan OMC terkendala kondisi atmosfer.
Awan konvektif yang menjadi salah satu syarat utama untuk melakukan modifikasi cuaca belum terbentuk di wilayah Bromo. Berdasarkan data BMKG, setidaknha sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC.
"Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca. Tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC," kata Satyawan, Jakarta, Senin 10 Agustus 2026.
OMC merupakan upaya untuk meningkatkan potensi hujan dengan menyemai garam atau natrium klorida (NaCl) ke dalam gumpalan awan menggunakan pesawat khusus. Operasi tersebut dilakukan berdasarkan data ilmiah dan melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, serta TNI Angkatan Udara.
Satyawan mengatakan kebakaran di kawasan TNBTS telah berlangsung selama beberapa hari, setidaknya sejak Selasa (4/8). Hingga kini, sejumlah titik api masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Berdasarkan data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), luas area yang terdampak kebakaran di kawasan Gunung Bromo telah mencapai sekitar 520 hektare. Data tersebut masih dalam proses pendataan dan pemutakhiran.
Menurut Satyawan, kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman. Akses darat yang sulit membuat petugas tidak mudah menjangkau sejumlah titik kebakaran.
Karena itu, penanganan dilakukan dengan mengombinasikan pengerahan pasukan darat dan pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing. "Pendekatannya kita kombinasi antara pasukan darat dan water bombing," katanya.
"Kemarin saja sudah ada 30 kali pengeboman air. Namun medan yang sulit, angin kencang, dan kelembapan udara yang sangat rendah membuat upaya pemadaman tidak mudah," ujarnya menambahkan.
Kondisi cuaca yang kering disertai angin kencang membuat api berpotensi sulit dikendalikan. Sementara itu, ketiadaan awan konvektif menyebabkan OMC belum dapat menjadi opsi untuk membantu meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan yang terdampak kebakaran.
Kemenhut bersama pihak terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran. Guna mencegah api meluas ke wilayah lain di kawasan TNBTS.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....