Tekan Kemiskinan, Mentan Amran Percepat Intervensi Pertanian di Alor
- 09 Agt 2026 06:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mentan Amran mempercepat intervensi sektor pertanian di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
- Penguatan pangan jangka pendek hingga pengembangan komoditas perkebunan jangka panjang disiapkan untuk menekan angka kemiskinan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Amran menilai sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat Alor.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mempercepat intervensi sektor pertanian di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penguatan pangan jangka pendek hingga pengembangan komoditas perkebunan jangka panjang disiapkan untuk menekan angka kemiskinan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Di sini kemiskinan masih tinggi. Solusi tercepatnya adalah pertanian. Karena itu, kita kerjakan yang jangka pendek dan jangka panjang sekaligus," kata Amran dalam kunjungan kerjanya di Alor, di Jakarta, Sabtu 8 Agustus 2026.
Kunjungan ini dilakukan Amran setelah mendengar langsung aspirasi mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, saat mengisi kuliah umum di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Kamis (6/8). Saat itu, Adriano menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Alor, mulai dari harga dan distribusi beras hingga kebutuhan dukungan pemerintah untuk mengembangkan sektor pertanian.
Aspirasi tersebut mendorong Amran untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan potensi pertanian di Alor. Bahkan, ia mengaku membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta agar dapat segera menindaklanjuti persoalan tersebut.
"Kami langsung turun, kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta dan langsung terbang ke Alor. Kami sudah lihat, semua permintaan kami penuhi di bawah naungan Kementerian Pertanian," ujarnya.
Menurut Amran, aspirasi yang disampaikan Adriano menjadi pengingat bagi pemerintah mengenai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di daerah. "Dia membawa aspirasi rakyat, bukan kepentingan pribadi, saya bangga dengan Adriano, ini putra terbaik NTT," katanya.
"Aspirasi seperti ini harus kita kawal karena mereka membaca denyut nadi masyarakat, mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat," ucap Amran. Di Alor, Amran meninjau sejumlah lokasi serta berdialog dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Dari hasil peninjauan tersebut, dia menegaskan pengentasan kemiskinan menjadi salah satu sasaran utama intervensi Kementerian Pertanian. Amran menilai sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat Alor.
Karena itu, intervensi dilakukan secara bersamaan, mulai dari memastikan kebutuhan pangan. Hingga membangun sumber pendapatan masyarakat melalui komoditas perkebunan.
"Beras kita amankan, benih kita berikan, alsintan (alat dan mesin pertanian) dan pompa kita siapkan. Setelah itu kita bangun tanaman jangka panjang seperti kelapa, kakao, dan mete," katanya.
Untuk kebutuhan pangan, Amran memastikan ketersediaan beras di Alor harus aman dengan harga yang terjangkau. Ia meminta Bulog memastikan stok beras tetap tersedia dan melakukan operasi pasar apabila diperlukan.
"Beras sudah aman, sudah ada di gudang, harganya harus sama dengan Jakarta, sekitar Rp13 ribu. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang membeli beras dengan harga Rp25 ribu atau Rp30 ribu. Kalau dibutuhkan, Bulog lakukan operasi pasar," katanya.
Selain beras, Kementan menyiapkan dukungan berupa benih padi dan jagung, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pompa untuk mempercepat produksi pangan. Khususnya di lahan yang memiliki sumber air.
Dalam kunjungan tersebut, Amran juga menambah dukungan alsintan dan pompa sesuai dengan kebutuhan yang disampaikan pemerintah daerah dan masyarakat.
Targetkan 10 Ribu Hektare Tanaman Perkebunan
Untuk jangka panjang, Amran mendorong pengembangan komoditas yang dinilai sesuai dengan kondisi agroklimat Alor, terutama kelapa, kakao, dan jambu mete. Pengembangan komoditas tersebut diharapkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat karena dapat memberikan hasil dalam jangka panjang.
"Kita targetkan tanaman minimal 10 ribu hektare di Alor. Kalau satu hektare dikelola satu keluarga, berarti ada 10 ribu keluarga yang mendapat sumber penghasilan," ujar Amran.
Dengan asumsi satu keluarga terdiri atas empat orang, ia memperkirakan sekitar 40 ribu masyarakat Alor dapat merasakan manfaat dari program pengembangan komoditas tersebut. "Karena itu, kita harus kerja sungguh-sungguh agar kemiskinan di Alor bisa ditekan," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....