BRI Perkuat Posyandu untuk Dukung 1.000 Hari Pertama Kehidupan
- 06 Agt 2026 01:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRI dan Rabu Biru Foundation (RBF) meluncurkan Program Desa BRILiaN 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) di Desa Hargobinangun, Kabupaten Sleman.
- Program tersebut fokus pada penguatan layanan Posyandu sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia sejak masa awal kehidupan.
- BRI menilai periode 1.000 HPK sangat menentukan kesehatan, perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, dan daya saing manusia di masa depan.
RRI.CO.ID, Sleman - Penguatan layanan Posyandu dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak masa awal kehidupan. Upaya tersebut dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Program Desa BRILiaN bersama Rabu Biru Foundation (RBF) dengan meluncurkan Program Desa BRILiaN 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) di Desa Hargobinangun, Kabupaten Sleman.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat layanan Posyandu sebagai pusat pelayanan kesehatan ibu dan anak, edukasi gizi, peningkatan kapasitas kader, hingga pendampingan keluarga selama periode 1.000 HPK. Melalui BRI Peduli, BRI memberikan dukungan pendanaan dan penguatan pembangunan desa melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), sementara RBF berperan sebagai mitra implementasi strategis dalam mengembangkan model penguatan Posyandu berbasis masyarakat.
Sebagai tahap awal, RBF melakukan revitalisasi Posyandu Matahari di Desa Hargobinangun. Posyandu tersebut sekaligus disiapkan sebagai model percontohan penguatan layanan dalam Program Desa BRILiaN 1.000 HPK.
Posyandu Matahari diresmikan Vice President CSR BRI Dinne Shovia Tresna bersama Bupati Sleman Harda Kiswaya, Ketua Rabu Biru Foundation Toro Sudarmadi, serta Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI dr. Niken Wastu Palupi. Dinne menyebut revitalisasi Posyandu tidak hanya menyasar pembaruan sarana dan prasarana, tetapi juga memperluas fungsi Posyandu sebagai pusat layanan kesehatan dan edukasi bagi ibu serta anak.
"Revitalisasi ini tidak hanya menghadirkan pembaruan sarana dan prasarana. Namun, juga mentransformasikan Posyandu menjadi pusat layanan kesehatan ibu dan anak, edukasi gizi, penguatan kapasitas kader serta pendampingan keluarga pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan," kata Dinne dalam keterangannya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurut dia, Posyandu Matahari diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik yang dapat diterapkan di daerah lain untuk memperkuat layanan kesehatan primer. Sekaligus, mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Dinne menilai periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan fase yang sangat menentukan kualitas kesehatan dan perkembangan manusia. Pada fase tersebut, perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas hingga daya saing seseorang pada masa depan mulai dibentuk.
"Oleh karena itu, investasi pada periode ini merupakan investasi jangka panjang bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045," katanya.
Posyandu Tidak Sekadar Layanan Kesehatan Dasar
Ketua Rabu Biru Foundation Toro Sudarmadi mengatakan, penguatan Posyandu perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Posyandu tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan rutin, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat layanan terpadu untuk mendukung tumbuh kembang anak sejak masa awal kehidupan.
"Posyandu harus menjadi pusat layanan 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat. Namun,juga memperkuat edukasi gizi, pemberdayaan kader, dan pendampingan keluarga," ujar Toro.
Ia menilai keberadaan Posyandu yang kuat dapat menjadi salah satu fondasi dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat dan unggul.
Kolaborasi Jadi Kunci
Bupati Sleman Harda Kiswaya menegaskan, pembangunan kesehatan masyarakat tidak dapat dilakukan secara parsial. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat diperlukan agar layanan kesehatan dapat menjangkau ibu dan anak secara optimal.
"Keberhasilan Program 1.000 HPK membutuhkan kolaborasi semua pihak. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan setiap ibu dan anak memperoleh layanan terbaik sejak awal kehidupan," kata Harda.
Program Desa BRILiaN 1.000 HPK dikembangkan sebagai model kolaborasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Selain memperkuat Posyandu, program tersebut mendorong koordinasi antara pemerintah desa, puskesmas, Dinas Kesehatan, sektor swasta dan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....