GSKI Rehobot Latih Mahasiswa Jadi Penerjemah Bahasa Isyarat

  • 27 Jul 2026 15:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • GSKI Rehobot melatih mahasiswa STT menjadi penerjemah bahasa isyarat.
  • Mahasiswa dilibatkan langsung dalam pelayanan ibadah sebagai bagian dari proses belajar.
  • Gereja berharap layanan bahasa isyarat semakin banyak tersedia hingga berbagai daerah.

RRI.CO.ID, Jakarta – Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Rehobot melatih mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) menjadi penerjemah bahasa isyarat. Langkah itu dilakukan untuk memperluas pelayanan bagi penyandang disabilitas rungu di rumah peribadatan.

Gembala Sidang GSKI Rehobot, Pdt. Kornelis AJ mengatakan, pelatihan diberikan sebagai bagian dari komitmen gereja menghadirkan pelayanan yang inklusif. Menurutnya, kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa saat melayani di berbagai daerah.

"Kita punya anak-anak juga kita ajarin untuk mereka bisa berbagi. Nanti saat mereka lulus dari sekolah, mereka bisa melayani di tempat-tempat yang membutuhkan," katanya saat diwawancarai RRI, Jakarta, Minggu, 26 Juli 2026.

Ia menjelaskan, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat langsung dalam pelayanan ibadah. Cara itu diharapkan menjadi bekal sebelum mereka melayani di tengah masyarakat.

"Tujuannya mereka bisa berbagi ke yang lain. Mereka juga bisa melayani di daerah-daerah yang ada orang-orang yang membutuhkan," ujarnya.

Kornelis mengatakan, gereja saat ini memiliki dua penerjemah utama. Selain itu, empat penerjemah bahasa isyarat diterjunkan dalam setiap ibadah dengan melibatkan mahasiswa sebagai pendamping pembelajaran.

"Ada empat orang yang kita libatkan. Di samping itu ada mahasiswa yang ada di situ untuk ikut belajar," ucapnya.

Ia menambahkan, pelayanan bahasa isyarat telah berjalan lebih dari satu dekade. Pelayanan tersebut menjadi bagian dari upaya gereja menjangkau seluruh jemaat tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi.

"Pelayanan kita tidak terbatas. Firman Tuhan harus dibagikan kepada semua orang yang membutuhkan," katanya.

Pdt. Kornelis berharap semakin banyak gereja menghadirkan layanan bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas rungu. Ia juga berharap para penerjemah dapat melayani hingga ke berbagai daerah, bukan hanya di gereja yang berada di pusat kota atau kawasan perbelanjaan.

"Saya berharap setiap gereja mempunyai fasilitas seperti yang kami siapkan. Orang-orang yang melayani dengan bahasa isyarat juga bisa melayani di tempat-tempat yang lain," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....