Interpreter Bahasa Isyarat Dorong Gereja Perluas Akses bagi Disabilitas Rungu

  • 26 Jul 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Edik Widodo mendorong seluruh gereja menyediakan layanan bahasa isyarat bagi jemaat disabilitas rungu.
  • Keterbatasan SDM menjadi kendala pengembangan pelayanan bahasa isyarat di gereja.
  • Jumlah interpreter bahasa isyarat di Indonesia diperkirakan masih kurang dari 500 orang.

RRI.CO.ID, Jakarta – Interpreter bahasa isyarat, Edik Widodo mendorong gereja untuk memperluas akses ibadah khususnya bagi jemaat disabilitas rungu. Menurutnya, pelayanan tersebut penting agar penyandang disabilitas rungu dapat memperoleh hak beribadah secara setara.

Edik mengatakan, bahasa isyarat keagamaan memiliki tantangan tersendiri dibandingkan penerjemahan umum. Sejumlah istilah abstrak membutuhkan penyesuaian penggambaran bersama komunitas disabilitas rungu.

"Istilah seperti roh, surga, dosa, dan hati nurani harus disepakati bersama komunitas disabilitas rungu. Mereka yang menentukan isyarat, sedangkan kami memberikan pemahaman mengenai maknanya," ujarnya saat diwawancarai oleh RRI, Jakarta, Minggu, 26 Juli 2026.

Menurut Edik, proses penyusunan istilah dilakukan bersama komunitas disabilitas rungu agar pesan keagamaan dipahami dengan baik. Pendekatan tersebut membuat materi ibadah lebih mudah diterima jemaat disabilitas rungu.

"Semua gereja seharusnya mengadopsi pelayanan ini. Kami juga terbuka membantu gereja yang ingin mengembangkan layanan bahasa isyarat," katanya.

Ia menilai, hingga kini banyak gereja belum memahami cara memberikan akses kepada jemaat disabilitas rungu. Selain itu, lanjut dia, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi kendala pelayanan.

"Kalau ingin seseorang bertobat dan berperilaku baik, tentu harus diajar. Bagaimana mereka belajar jika tidak memahami cara penyampaiannya," ujarnya.

Edik menegaskan bahasa isyarat menjadi jembatan komunikasi bagi penyandang disabilitas rungu dalam memahami ajaran agama. Dengan demikian, mereka memperoleh kesempatan belajar yang setara.

Edik sendiri mengaku dirinya telah menjadi interpreter bahasa isyarat selama 27 tahun. Pengalaman tersebut berawal dari pelayanan gereja dan kegiatan bersama komunitas disabilitas rungu.

Menurut Edik, kemampuan menjadi interpreter tidak cukup hanya menguasai bahasa isyarat. Seorang interpreter juga harus terus berinteraksi dengan komunitas disabilitas rungu.

"Belajar bahasa isyarat harus bersama komunitas disabilitas rungu. Kalau lepas dari komunitas, kemampuan menerjemahkan akan sulit berkembang," ujarnya.

Ia memperkirakan jumlah interpreter bahasa isyarat di Indonesia masih kurang dari 500 orang. Jumlah tersebut, kata Edik, dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan layanan di berbagai daerah.

Edik berharap semakin banyak masyarakat mempelajari bahasa isyarat untuk membantu sesama. Ia juga meminta pemerintah memperluas implementasi akses bagi penyandang disabilitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....