Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Tangerang Selatan Masih Tinggi
- 27 Jul 2026 04:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta bullying di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melonjak tajam
- Sepanjang 2026, tercatat 118 anak menjadi korban kekerasan dan 37 kasus terjadi di lingkungan sekolah
RRI.CO.ID, Tangerang - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) masih tinggi. Jumlah korban kekerasan hingga pertengahan 2026 tercatat 118 anak, dari 211 kasus kekerasan.
Data dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tangsel tercatat 397 kasus yang terjadi pada 2025. Sebanyak 244 anak yang menjadi korban kekerasan seksual hingga perundungan, tahun lalu.
Kekerasan yang terjadi di sekolah sebanyak 37 kasus, tahun 2026. Sementara tahun lalu hanya ada 30 kasus kekerasan terjadi di sekolah.
Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tangsel Tri Purwanto mengatakan kekerasan itu dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor. Faktor itu adalah keluarga, sekolah, lingkungan dan perkembangan teknologi. Unit PPA Kota Tangsel di bawah Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB). Unit ini terus memantau kondisi perempuan dan anak khususnya aspek perlindungan kepada mereka.
“Untuk kasus kekerasan seksual, umumnya terjadi karena minimnya pengawasan orangtua," kata Purwanto Minggu 26 Juli 2026. Di samping itu juga ada faktor penyalahgunaan media sosial, rendahnya pendidikan seks dan anggapan seks adalah hal yang tabu.
Seringkali lingkungan siosial juga tidak mendukung jika pelaku kekerasan pihak yang dikenal korban sehingga korban takut melapor. Sementara kasus bullying di sekolah umumnya terjadi karena pelaku ingin menunjukkan eksistensi diri.
| Baca juga: 162 KK Tangsel Butuh 73.100 Liter Air Bersih |
“Ada kecenderungan pelaku ingin menunjukan kekuasaan. Selain itu pengawasan guru juga kurang optimal,” ucapnya. Pihaknya juga melakukan upaya untuk melakukan penguatan serta pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan. Diantaranya, penguatan peran keluarga dalam pengawasan dan komunikasi, literasi digital bagi anak, orangtua dan guru.
“Kolaborasi antara sekolah, orang tua, kepolisian, dinas pendidikan, dan masyarakat. Semuanya untuk pencegahan serta penanganan kasus secara cepat juga harus dilakukan,” kata dia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....