BNPB: Karhutla Jadi Bencana Terbanyak saat Musim Kemarau

  • 25 Jul 2026 01:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana yang paling banyak terjadi.
  • Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana yang paling banyak terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode pelaporan 23–24 Juli 2026. Meningkatnya kejadian karhutla tersebut terjadi seiring berlangsungnya musim kemarau.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan karhutla terjadi di sejumlah daerah. Antara lain Kota Sorong, Papua Barat Daya, kawasan Gunung Karnglo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, serta Kabupaten Blora dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Luas lahan yang terbakar di berbagai lokasi mencapai puluhan hektare. Sebagian besar kobaran api telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan, meski proses pemadaman masih berlangsung di beberapa titik.

Di Kota Sorong, kebakaran terjadi di kawasan Gunung Kali Ampat dan Gunung Woroth dengan total luas lahan terbakar sekitar tiga hektare. Hingga kini, proses pemadaman di Gunung Woroth masih berlangsung, sementara pemerintah daerah tengah memproses penetapan status siaga darurat karhutla.

Di Jawa Timur, kebakaran melanda kawasan Gunung Karnglo di Kecamatan Jambon dengan luas sekitar dua hektare. Sementara di Jawa Tengah, kebakaran lahan terjadi di Kabupaten Blora seluas tiga hektare dan di Kabupaten Klaten seluas enam hektare.

BNPB memastikan seluruh kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. "BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi kering selama musim kemarau, termasuk kekeringan dan karhutla," kata Abdul Muhari dalam siaran pers BNPB, Jumat 24 Juli 2026.

Abdul menambahkan pemerintah daerah diharapkan memperkuat kesiapsiagaan, memastikan ketersediaan air bersih, serta mengoptimalkan langkah-langkah pengurangan risiko bencana. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan serta menggunakan air secara bijaksana selama musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....