Aktivitas Gunung Karangetang Meningkat, Tercatat 790 Gempa Embusan

  • 05 Mar 2026 18:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Manado - Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, masih menunjukkan dinamika kegempaan yang cukup tinggi hingga pertengahan Februari 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat ratusan gempa embusan terjadi dalam periode tersebut.

Data pemantauan menunjukkan berbagai jenis kegempaan masih terekam dari gunung api aktif tersebut. Meski sejumlah indikator mengalami penurunan dibanding pekan sebelumnya, intensitas aktivitas vulkanik tetap perlu diwaspadai oleh masyarakat di sekitar kawasan gunung.

"Selain gempa embusan, terekam sebanyak 102 kali tremor harmonik. Lalu 127 kali tremor nonharmonik, empat kali gempa hybrid atau fase banyak," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pada periode tersebut Badan Geologi mencatat sebanyak 790 kali gempa embusan yang terjadi di Gunung Karangetang. Selain itu juga tercatat 36 kali gempa vulkanik dangkal dan 63 kali gempa vulkanik dalam.

Data kegempaan lainnya menunjukkan adanya dua kali gempa tektonik lokal, satu kali gempa terasa pada skala MMI I, serta 50 kali gempa tektonik jauh. Catatan tersebut menggambarkan aktivitas kegempaan yang masih berlangsung di sekitar gunung api tersebut.

Berdasarkan evaluasi visual, kondisi kawah utama di bagian selatan tidak menunjukkan adanya kejadian guguran lava maupun erupsi efusif. Tinggi kolom asap yang teramati mencapai maksimum sekitar 100 meter di atas puncak gunung.

Sementara itu, pada kawah utara terpantau asap putih dengan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian maksimum sekitar 100 meter. Sinar api pada kolom asap tidak terlihat, namun suara gemuruh kadang terdengar dari pos pengamatan gunung api.

Lana menambahkan, meskipun terjadi penurunan aktivitas dibandingkan pekan sebelumnya, intensitas kegempaan masih tergolong tinggi. Oleh karena itu masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya.

Salah satu potensi ancaman yang perlu diwaspadai yakni kemungkinan terjadinya awan panas guguran. Hal ini disebabkan masih adanya kubah lava lama di puncak gunung yang sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava.

Karakteristik awan panas guguran di Gunung Karangetang umumnya berasal dari penumpukan material lava yang gugur atau longsor dari puncak gunung. Selain itu masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai potensi lahar saat terjadi hujan deras di kawasan puncak.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 15 Februari 2026, tingkat aktivitas Gunung Karangetang masih berada pada Level II atau Waspada. Dalam rekomendasinya, Badan Geologi meminta warga, pengunjung, maupun wisatawan untuk mematuhi radius bahaya yang telah ditetapkan.

Masyarakat tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utama di bagian selatan dan kawah kedua di bagian utara. Selain itu, area dalam radius 2,5 kilometer pada sektor barat daya dan selatan dari kawah utama juga harus dihindari.

Warga yang tinggal di sekitar Gunung Karangetang juga dianjurkan menyiapkan masker untuk melindungi hidung dan mulut dari potensi gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu vulkanik. Selain itu, masyarakat yang bermukim di bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi lahar hujan maupun banjir bandang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....