Napak Tilas ke Bawean, Toni: Persoalan Lama ternyata Masih Belum Berubah
- 08 Jul 2026 13:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya asal Fraksi Golkar, Arif Fathoni melakukan kunjungan kerja ke Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada 4–6 Juli 2026.
- Toni menemukan persoalan lama yang ternyata masih menjadi keluhan masyarakat hingga sekarang.
- Kunjungan Toni ke Pulau Puteri ini bukan sekadar agenda partai, melainkan perjalanan pulang ke tempat yang pernah membentuk jalan hidupnya.
RRI.CO.ID, Bawean - Begitu kapal yang membawa rombongan safari politik Partai Golkar merapat di Pelabuhan Bawean, Kabupaten Gresik, Sabtu 4 Juli 2026, ada rasa yang berbeda bagi Arif Fathoni. Kunjungan itu bukan sekadar agenda partai, melainkan perjalanan pulang ke tempat yang pernah membentuk jalan hidupnya.
Sudah 26 tahun Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya itu meninggalkan Pulau Bawean. Terakhir kali ia tinggal di pulau tersebut pada 1998 saat masih duduk di bangku SMP.
Kini, ia kembali bersama Ketua DPD Partai Golkar Jatim yang juga anggota Komisi V DPR RI Ali Mufthi, anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib, Ketua DPD Partai Golkar Gresik Wongso Negoro, Ketua Pratama DPD Partai Golkar Jatim Akhsanul Yakin, serta anggota Fraksi Golkar DPRD Gresik untuk menyerap aspirasi masyarakat.
Namun di balik rangkaian safari politik itu, tersimpan kisah yang sangat personal.
Bagi Toni, sapaan akrab Arif Fathoni, Bawean bukan hanya sebuah pulau di Laut Jawa. Tempat itu adalah ruang yang mengajarkannya arti perjuangan sejak usia remaja.
Perjalanannya ke Bawean bermula ketika kedua orang tuanya berpisah. Saat sang kakak memilih tinggal bersama ibunya, Toni memutuskan ikut pamannya agar beban sang ibu menjadi lebih ringan.
Pamannya kemudian membiayai pendidikannya hingga ia dapat melanjutkan sekolah di Bawean pada 1996 hingga 1998.
"Pulau Bawean adalah sekolah kehidupan bagi saya. Di sini saya belajar bukan hanya pelajaran di sekolah, tetapi juga belajar tentang hidup dan kehidupan," kata Toni.
Di pulau itulah kemampuan berbicaranya mulai terasah. Ia mengenang hampir setiap ajang Pekan Olahraga dan Seni Ma'arif (Porsema), dirinya selalu meraih juara pertama lomba pidato.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal saat harus berbicara di ruang-ruang politik hingga kini.
Persoalan Lama Belum Berubah
Selama tiga hari mengikuti safari politik pada 4–6 Juli 2026, Toni juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah tempat yang dulu akrab dalam ingatannya.
Menurutnya, bentang alam Bawean nyaris tidak berubah. Hutan masih terjaga, pepohonan tetap rindang, dan pantainya masih memancarkan keindahan yang sama seperti puluhan tahun silam.
"Alhamdulillah saya melihat hutannya masih terjaga. Tidak ada penggundulan hutan. Bentang pantainya juga masih sangat indah seperti dulu," ujarnya.
Namun di balik keindahan tersebut, Toni menemukan persoalan lama yang ternyata masih menjadi keluhan masyarakat hingga sekarang. Dalam dialog dengan tokoh masyarakat, kepala desa, dan pemerintah kecamatan, ia mendengar kembali masalah pelayanan kesehatan serta transportasi laut yang pernah dialaminya ketika tinggal di Bawean.
Menurutnya, hingga kini masih ada warga yang harus dirujuk ke rumah sakit di Gresik karena keterbatasan layanan kesehatan di Bawean. Saat cuaca buruk dan kapal tidak dapat berlayar, kondisi pasien menjadi sangat berisiko.
"Problem itu dulu juga saya alami ketika kecil tinggal di Bawean. Warga yang sakit tidak bisa dirujuk karena kapal tidak berangkat akibat cuaca buruk," ucapnya.
Ia menilai keberadaan RSUD Umar Mas'ud Bawean yang kini berstatus paripurna seharusnya diikuti dengan kelengkapan dokter spesialis, tenaga kesehatan, dan peralatan medis. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada rumah sakit di Gresik.
"Kalau rumah sakitnya sudah berstatus paripurna, harusnya fasilitas dan tim medis sudah lengkap, warga cukup berobat di Bawean. Kalau tidak, berarti persoalannya masih sama seperti 26 tahun lalu," katanya.
Ombak Masih Menjadi Penghalang
Pengalaman itu kembali dirasakan Toni saat hendak meninggalkan Bawean. Kapal yang akan membawanya kembali ke Gresik tidak diizinkan berlayar karena cuaca buruk sesuai peringatan BMKG.
Baginya, situasi tersebut seperti mengulang kisah masa remaja di Bawean tempo dulu. "Ini seperti mengulang pengalaman 26 tahun lalu. Dulu saya mengalaminya, sekarang ternyata masyarakat masih menghadapi persoalan yang sama," ujarnya.
Karena itu, ia pun mendorong pemerintah menghadirkan kapal berkapasitas lebih besar yang mampu beroperasi saat gelombang tinggi. Sehingga mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik di Pulau Puteri, -- sebutan Bawean -- tidak selalu terhenti akibat cuaca.
Toni juga berharap Bupati Gresik dan Gubernur Jawa Timur dapat memperkuat koordinasi agar akses transportasi laut menuju Bawean menjadi prioritas pembangunan. Ia meminta Bupati dan Gubernur serius memikirkan persoalan ini.
Ekowisata Tidak Kehilangan Jati Diri
Selain infrastruktur, Toni juga melihat Bawean memiliki potensi besar di sektor pariwisata. Keindahan alam yang masih lestari dinilai menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pembangunan wisata tetap menjaga karakter religius dan budaya lokal yang selama ini menjadi identitas masyarakat Bawean. "Kalau wisata Bawean berkembang, biarlah berkembang dengan karakter Bawean sendiri, yang dibangun adalah ekowisata berbasis kearifan lokal, bukan meniru daerah lain," katanya.
Bagi Toni, perjalanan napak tilas ini bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia mengaku pulang dengan semangat baru untuk terus mengabdi kepada masyarakat.
"Saya merasa mendapatkan energi kembali. Semangat hidup yang dulu saya pelajari di Bawean menjadi pengingat untuk terus berbagi manfaat dan melayani masyarakat," ujarnya.
Ia berharap berbagai aspirasi yang diterima selama safari politik dapat diperjuangkan melalui kebijakan dan penganggaran. Terutama untuk mengatasi persoalan klasik pelayanan kesehatan dan transportasi laut yang menurutnya sudah terlalu lama membayangi masyarakat Bawean.
"Kami berharap masalah klasik yang terjadi di Bawean 26 tahun lalu, dan sekarang masih tetap sama, bisa segera diatasi. Terutama masalah pelayanan kesehatan dan kapal, menurut saya ini sangat penting dan harus dipikirkan pemerintah demi kemajuan Pulau Bawean ke depan," kata Toni.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....