Yahya Zaini Dorong 'Dhurung Bawean' Jadi Ikon Baru Gresik

  • 02 Feb 2026 20:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Gresik – Kearifan lokal Pulau Bawean kembali mencuri perhatian nasional melalui konsep arsitektur tradisional 'Dhurung Bawean'. Ini setelah karya bertajuk “Dhurung Argapana” yang terinspirasi dari rumah tradisional khas Bawean sukses meraih Juara 1 BTN Housingpreneur 2025.

Karya tersebut digagas oleh tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan diumumkan sebagai pemenang pada Sabtu 31 Januari 2026. Dhurung Argapana tersebut dinobatkan sebagai juara untuk kategori Rumah Nusantara – Business Ideation (Mahasiswa).

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini menilai, prestasi ini bukan sekadar capaian akademik. Tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat identitas budaya Kabupaten Gresik di tengah citranya sebagai kawasan industri dan pelabuhan nasional.

Yahya Zaini mengatakan, Dhurung Bawean menawarkan narasi pembangunan modern yang tetap berakar pada kearifan lokal. “Di tengah wajah Gresik yang dikenal sebagai daerah industri besar, Dhurung Bawean menghadirkan pesan bahwa modernitas tidak harus menyingkirkan kearifan lokal,” ujar Yahya, di Jakarta, Senin 2 Februari 2026.

Ia menjelaskan, Dhurung Bawean selama ini dikenal sebagai rumah panggung sederhana dengan ruang depan terbuka yang multifungsi. Namun, di balik bentuknya terdapat filosofi sosial yang kuat.

“Dalam tradisi masyarakat Bawean, dhurung bukan sekadar bagian bangunan. Ia adalah ruang sosial untuk menerima tamu, bermusyawarah, menyelesaikan persoalan kampung, sekaligus mempererat relasi antarwarga," ujarnya.

"Nilai keterbukaan, kesetaraan, dan kebersamaan inilah ruh utama Dhurung Bawean,” ucap politisi Golkar asal kelahiran Pulau Bawean itu. Melalui konsep Dhurung Argapana, nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam desain hunian modern yang adaptif terhadap iklim tropis, hemat energi, dan ramah lingkungan.

Yahya menyebut, optimalisasi ventilasi alami, pencahayaan maksimal, serta penggunaan material lokal tersebut sejalan dengan prinsip arsitektur berkelanjutan, yang kini menjadi perhatian global.

“Ini membuktikan bahwa arsitektur tradisional Nusantara, termasuk Dhurung Bawean, bukan warisan usang. Tetapi memiliki daya saing konseptual hingga level dunia,” ucap YZ, panggilan akrab Yahya Zaini.

Ia pun mendorong agar Dhurung Bawean diangkat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sekaligus dijadikan ikon dan identitas arsitektur resmi Kabupaten Gresik. “Sudah saatnya pemerintah daerah menjadikannya langgam arsitektur yang hadir di bangunan publik, fasilitas pelayanan, hingga kawasan pariwisata,” katanya.

Menurut Yahya, penguatan identitas lokal justru menjadi pembeda strategis di tengah dominasi wajah industrial Gresik. Integrasi unsur Dhurung Bawean pada gedung pemerintahan, terminal, pelabuhan, rest area, hingga destinasi wisata diyakini akan memperkuat citra Gresik sebagai daerah maju yang tetap berbudaya.

“Gresik tidak boleh kehilangan jati diri. Dengan menghadirkan Dhurung Bawean dalam desain modern, Gresik bisa tampil sebagai daerah industri yang berkarakter dan memiliki narasi pembangunan yang kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yahya mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penggunaan elemen arsitektur Dhurung Bawean pada bangunan milik pemerintah daerah. Serta kawasan strategis pariwisata.

Kebijakan ini dinilai mampu menciptakan konsistensi pembangunan sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif lokal. “Dampaknya berlapis, mulai dari kebanggaan masyarakat, arah pembangunan yang jelas, hingga peluang ekonomi bagi arsitek lokal, perajin, UMKM material bangunan, dan sektor pariwisata budaya,” ujarnya.

Pulau Bawean sendiri memiliki potensi wisata bahari, budaya, dan religi yang besar. Namun, identitas arsitekturalnya belum terintegrasi kuat dalam branding pariwisata Gresik.

Penguatan Dhurung Bawean sebagai ikon visual dinilai dapat memperkaya pengalaman wisata sekaligus meningkatkan lama tinggal wisatawan. Dengan pendekatan tersebut, Dhurung Bawean tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga aset strategis masa depan bagi pembangunan Gresik yang berkelanjutan, berkarakter, dan berdaya saing nasional hingga global.

Untuk diketahui, Dhurung Bawean merupakan warisan arsitektur tradisional dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dhurung menyimpan fungsi multifungsi sebagai lumbung padi, balai pertemuan, tempat belajar mengaji, hingga simbol struktur sosial masyarakat agraris.

Berbeda dari bangunan rumah utama, Dhurung dibangun secara terpisah dan diletakkan di bagian depan rumah dengan struktur terbuka tanpa dinding, beralaskan papan kayu atau bambu, dan atap berbentuk pelana. 

Adapun material utama yang digunakan umumnya adalah kayu ulin, kayu jati, dan bambu. Keunikan Dhurung terletak pada pembagian dua fungsionalitas ruang: bagian atas sebagai lumbung penyimpanan hasil panen, dan bagian bawah sebagai ruang sosial terbuka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....