Video Viral Gunung Anak Krakatau Meletus Dipastikan Hoaks
- 05 Jul 2026 19:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tetap tenang.
- Badan Geologi ESDM memastikan video yang memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan informasi palsu atau hoaks.
- Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan video yang memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan informasi palsu atau hoaks. Sebelumnya, di berbagai medsos viral video gunung api itu meleus yang seolah diambil dari atas kapal.
Demikian disampaika Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu 5 Juli 2026. Ia mengatakan hasil verifikasi teknis menunjukkan video berdurasi kurang dari satu menit tersebut bukan merupakan rekaman aktivitas erupsi terkini Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
"Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia," ujar Lana.
Video yang viral itu memperlihatkan sedikitnya dua orang merekam letusan gunung berapi. Di mana, dalam video itu disertai kilatan cahaya saat berada di atas sebuah kapal.
Berdasarkan data pemantauan Badan Geologi, aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir hanya mencatat dua kali erupsi kecil. Yakni, pada Kamis (2/7) pukul 14.05 WIB dan Jumat (3/7) pukul 11.50 WIB. Kedua erupsi tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak.
Selain meluruskan informasi mengenai video viral, Badan Geologi juga membantah isu yang menyebut radius rekomendasi aman telah diperluas menjadi 5 kilometer. Lana menegaskan rekomendasi resmi untuk status Level III (Siaga) tetap berada pada radius 3 kilometer dari pusat erupsi.
Dalam rekomendasi tersebut, masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun nelayan diminta tidak mendekati atau beraktivitas di dalam zona bahaya sejauh 3 kilometer. Karena berpotensi terdampak lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, maupun hujan abu.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tetap tenang. Serta tidak mudah percaya terhadap isu yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami.
Lana meminta masyarakat dan pemerintah daerah selalu mengacu pada informasi resmi yang disampaikan melalui situs PVMBG maupun aplikasi MAGMA Indonesia, serta mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). "Juga dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," kata Lana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....