Mendagri: Sebanyak 4.922 Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra Kembali Belajar

  • 18 Jun 2026 15:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sebanyak 4.922 sekolah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran
  • Proses belajar mengajar telah berjalan 100 persen di tiga provinsi terdampak
  • Sejumlah sekolah masih menggunakan ruang darurat, tenda, atau menumpang di sekolah lain karena bangunannya rusak berat

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan sebanyak 4.922 sekolah terdampak bencana di Sumatra telah kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran. Menurutnya, proses belajar mengajar di tiga provinsi yang terdampak kini sudah berjalan seratus persen.

Tito mengatakan pemulihan sektor pendidikan menunjukkan perkembangan positif dalam penanganan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pemerintah bersama kementerian terkait juga terus mempercepat perbaikan fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan.

“Di bidang pembelajaran, sudah pembelajaran 100 persen. Ada 4.922 sekolah yang terdampak, ini sudah dilakukan perbaikan,” kata Tito yang juga sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra dalam konferensi pers Rapat Tingkat Menteri (RTM) Satgas Rehab Rekon Bencana Sumatra di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menjelaskan sebagian besar sekolah yang terdampak telah kembali digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Saat ini, perbaikan sekolah juga terus dilakukan melalui kerja sama dengan kontraktor oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Meski demikian, Tito mengakui masih terdapat sejumlah sekolah yang menjalankan pembelajaran di lokasi sementara. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena bangunan sekolah mengalami kerusakan berat akibat bencana.

Selain itu, beberapa sekolah masih menggunakan ruang darurat dan tenda untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Tito juga mengungkapkan juga masih terdapat sekolah yang menumpang sementara di fasilitas pendidikan lain.

“Karena sekolahnya hancur sama sekali, terbawa longsor atau arus. Jadi kalau mau dibangunkan di situ, itu nanti akan menjadi masalah, sehingga perlu dilakukan relokasi,” ucapnya.

Ketua satgas tersebut juga mengatakan pemerintah akan terus melanjutkan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas pendidikan yang terdampak. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh siswa dapat belajar di sarana yang aman dan layak dalam jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....