Menbud: Budaya Minangkabau Mampu Representasikan Indonesia di Tingkat Dunia

  • 23 Mei 2026 20:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Fadli Zon menilai budaya Minangkabau memiliki karakter kuat dan beragam sebagai representasi budaya Indonesia
  • Minang Diaspora mengusulkan Taufik Ismail sebagai kandidat penerima Hadiah Nobel Sastra
  • Fasli Jalal menyebut dukungan pengusulan Penghargaan Nobel Sastra untuk Taufik Ismail akan digerakkan hingga tingkat internasional

RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menilai budaya Minangkabau memiliki karakter kuat dan berakar di tengah masyarakat Indonesia. Menurutnya, budaya Minang juga mampu menjadi representasi kebudayaan Indonesia di tingkat dunia.

Fadli mengatakan budaya Minangkabau memiliki ekspresi yang beragam mulai dari seni, sastra, hingga kuliner. Ia menilai hal itu menjadi kekuatan penting memperkenalkan Indonesia melalui para perantau Minang di berbagai negara.

“Budaya Minangkabau ini adalah budaya yang sangat kuat, kokoh, berakar dan ekspresi budayanya dalam berbagai macam bentuk. Itu sangat luar biasa beragamnya,” kata Fadli usai menghadiri forum Silaturahmi Minang Diaspora Network-Global (MDN-G) di Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2026.

Menurut Fadli, perantau Minang yang tersebar di berbagai negara menjadi duta budaya Indonesia melalui berbagai aspek kehidupan masyarakat. “Dan itu menjadi duta-duta budaya kita,” ujarnya.

Selain itu, Fadli juga menyambut baik usulan Minang Diaspora mengajukan sastrawan Taufik Ismail sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra. Menurutnya, langkah tersebut menjadi inisiatif positif memperkenalkan karya sastra Indonesia ke tingkat global.

Sementara itu, Presiden MDN-G Fasli Jalal mengatakan pihaknya mulai mendorong pengusulan Taufik Ismail sebagai kandidat penghargaan Nobel Sastra. Langkah tersebut dilakukannya karena Indonesia hingga kini belum memiliki peraih penghargaan tersebut.

“Kita akan mengusulkan Pak Taufik Ismail untuk menjadi peraih hadiah Nobel bidang sastra. Karena orang Indonesia belum satu pun yang punya, kebetulan ada orang Minang,” kata Rektor Universitas YARSI tersebut.

Profesor itu mengatakan dukungan pengusulan tersebut akan terus digerakkan hingga tingkat internasional selama enam bulan mendatang. Menurutnya, peluang tersebut perlu dimanfaatkan karena Taufik Ismail dinilai memiliki kapasitas yang sesuai kriteria yang dicari panitia.

“Nah kita menggerakkan itu, sehingga selama enam bulan ini kita akan gairahkan semua pihak sampai ke luar negeri. Sehingga mulai Januari nanti kita mulai mendaftarkan, kemudian bulan Mei nanti diumumkan, dan bulan Oktober 2027 mulai awarding,” ujarnya.

Menurut Fasli, sudah saatnya Indonesia memiliki peraih Nobel Sastra dari kalangan sastrawan nasional. Ia menilai peluang tersebut terdapat pada sosok Taufik Ismail, meskipun kini telah berusia 92 tahun.

“Sudah masanya lah orang Indonesia punya paling tidak satu menang hadiah Nobel. Kebetulan peluang itu ada di diri Pak Taufik Ismail,” kata Profesor Fasli.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....