Suara Nelayan Jakarta, Inginkan Penguatan Pelabuhan dan Fasilitas Pendingin Ikan

  • 22 Mei 2026 16:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nelayan tradisional di wilayah Kalibaru, Cilincing, dan Marunda, Jakarta Utara
  • Nelayan mengeluhkan dampak pembangunan di pesisir utara Jakarta
  • Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin mendukung, instruksi Presiden Prabowo Subianto membangun gudang pendingin

RRI.CO.ID, Jakarta - Nelayan tradisional di Kalibaru, Cilincing, dan Marunda meminta pemerintah membangun pelabuhan nelayan terintegrasi lengkap fasilitas pendingin ikan (cold storage). Fasilitas tersebut dinilai penting untuk menunjang aktivitas melaut sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional di Jakarta Utara.

Permintaan itu disampaikan di tengah pembangunan pesisir utara Jakarta yang dinilai semakin mempersempit wilayah tangkap nelayan tradisional. Akibat kondisi tersebut, nelayan harus melaut lebih jauh sehingga biaya operasional dan kebutuhan bahan bakar terus meningkat.

“Tapi kami sangat mengapresiasi perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap nelayan kecil. Termasuk rencana bantuan cold storage untuk mendukung sektor perikanan,” kata Penasihat Paguyuban Nelayan Cilincing, Muhamad Tahir saat ditemui, Jumat, 22 Mei 2026.

Menurutnya, keberadaan cold storage sangat penting karena dapat menjaga kualitas hasil tangkapan tetap segar sehingga nilai jual ikan meningkat. Namun, fasilitas tersebut dinilai hanya akan efektif apabila dibangun berdampingan dengan pelabuhan nelayan dan tempat bongkar muat ikan.

“Jika wilayah nelayannya sudah ada pelabuhan khusus nelayan tradisional, tentu sangat membantu jika diberikan bantuan cold storage. Karena akan menambah nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan, ikan tetap segar dan fresh,” katanya.

Ia menegaskan, pembangunan cold storage tanpa didukung pelabuhan yang terintegrasi dinilai tidak akan maksimal. “Karena lokasi cold storage harus berdampingan dengan tempat bongkar ikan dan tambat labuh,” ujarnya.

Tahir menyebut kawasan Kalibaru, Cilincing, dan Marunda hingga kini belum memiliki fasilitas cold storage terintegrasi dengan pelabuhan nelayan. Padahal, wilayah tersebut telah lama menjadi pusat aktivitas nelayan tradisional di Jakarta Utara.

“Dulu pernah ada cold storage. Tapi karena tempat tambat labuh dan bongkar ikannya tidak terintegrasi akhirnya pengelolaannya kurang maksimal,” katanya.

Selain persoalan fasilitas, nelayan juga mengeluhkan dampak pembangunan di pesisir utara Jakarta. Sejumlah proyek seperti pembangunan tol laut, pengenbangan batu bara disebut telah mencaplok area tangkapan nelayan.

Akibatnya, nelayan kini harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan sehingga biaya operasional, terutama bahan bakar, semakin meningkat. Dalam kondisi tersebut, nelayan menyampaikan sejumlah tuntutan yang dinilai mendesak.

Di antaranya percepatan pembangunan pelabuhan nelayan KCM (Kalibaru, Cilincing, Marunda) yang terintegrasi dengan sentra ekonomi nelayan. Kemudian peningkatan alat tangkap agar nelayan bisa melaut lebih jauh, serta jaminan ketersediaan BBM subsidi.

Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin mendukung, instruksi Presiden Prabowo Subianto membangun gudang pendingin (cold storage) dalam program Kampung Nelayan. Kebijakan ini, dinilainya sebagai langkah nyata pemerintah mendongkrak kesejahteraan masyarakat pesisir di seluruh Indonesia.

Di satu sisi, politikus PKB ini mengingatkan, proyek strategis ini dikawal ketat dari hulu ke hilir. Karena, perluasan fasilitas ini harus berjalan transparan demi menghindari adanya celah korupsi atau salah sasaran.

“Kami berharap program ini segera dijalankan di seluruh pelosok Indonesia. Namun, kami juga meminta agar proses pembangunannya diawasi dengan ketat agar tidak terjadi penyimpangan,” kata Usman dalam keterangan persnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....