SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq Gelar Workshop Interkulturalitas di Nabire
- 22 Mei 2026 05:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq Gelar Workshop Interkulturalitas di Nabire
- SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq Gelar Workshop Interkulturalitas
RRI.CO.ID, Nabire - SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville menggelar Workshop–Rekoleksi Interkulturalitas bagi siswa kelas X dan XI pada 11–17 Mei 2026. Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran lintas budaya untuk membangun kesadaran diri, kemampuan komunikasi, dan sikap saling percaya di tengah keberagaman budaya Papua dan Indonesia.
Workshop ini menghadirkan Dr. Roberto Vale sebagai fasilitator utama. Roberto sebelumnya pernah melakukan riset doktoral di Nabire mengenai Interpersonal Capacity for Trustworthiness atau kapasitas interpersonal untuk menjadi pribadi yang layak dipercaya.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa mengikuti berbagai aktivitas partisipatif seperti refleksi bersama, diskusi mendalam, permainan kelompok, seni, gerak tubuh, hingga latihan komunikasi. Sekitar 80 persen kegiatan dirancang dalam bentuk praktik dan interaksi langsung agar peserta dapat mengalami dinamika perjumpaan lintas budaya secara nyata.
Para peserta berasal dari beragam latar belakang budaya, antara lain Mee, Moni, Jawa, Toraja, Ambon, Kei, Batak, Serui, dan Biak. Dalam sesi berbagi pengalaman, siswa menceritakan tradisi keluarga, bahasa daerah, rumah adat, serta nilai-nilai yang diwariskan oleh orang tua mereka.
Dari proses tersebut, siswa menemukan adanya nilai-nilai universal yang hidup dalam berbagai budaya, seperti gotong royong. Penghormatan terhadap keluarga, solidaritas, dan sikap saling menghargai.
Pada sesi komunikasi lintas budaya, peserta diajak memahami pentingnya membangun percakapan yang bermakna melalui pertanyaan yang empatik dan terbuka. Roberto menilai kemampuan mengajukan pertanyaan yang baik menjadi salah satu keterampilan penting bagi generasi muda.
“Jika kalian mampu membuat pertanyaan yang baik, kalian tidak mudah kesepian. Kalian mampu belajar dari siapa saja, dan kalian lebih mampu menyelesaikan konflik secara manusiawi,” kata Roberto dalam sesi workshop.
Puncak kegiatan berlangsung dalam suasana reflektif di sekitar api unggun. Para siswa melakukan examen bersama untuk merefleksikan pengalaman mereka selama satu minggu kegiatan berlangsung.
Dalam proses tersebut, siswa yang sebelumnya cenderung bergaul dalam kelompok tertentu mulai membangun relasi baru dengan peserta lain. Pada hari terakhir, workshop mengangkat tema trust across cultures atau membangun rasa saling percaya di tengah keberagaman budaya.
Para siswa mengikuti walking meditation, berdialog dari hati ke hati bersama “teman Emaus”. Serta merefleksikan pengalaman tentang apa yang membuat seseorang merasa aman, diterima, dan dipercaya.
Selain siswa, para guru juga mengikuti sesi khusus mengenai upaya membangun kepercayaan di ruang kelas yang memiliki keberagaman budaya, kondisi sosial-ekonomi, dan kemampuan belajar siswa.
Pihak sekolah menilai kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter dan penguatan kesadaran sosial. Melalui program ini, sekolah berharap para siswa mampu bertumbuh menjadi pribadi yang terbuka terhadap dialog, mampu hidup bersama dalam keberagaman, dan berkontribusi membangun komunitas yang sehat.
Workshop ini juga menunjukkan bahwa Papua tidak hanya dikenal melalui berbagai persoalan sosial, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran tentang kemanusiaan, keberagaman, dan solidaritas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....