Identifikasi Korban Bus ALS di Muratara Andalkan DNA Tulang
- 10 Mei 2026 06:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri mengandalkan pemeriksaan deoxyribonucleic acid (DNA) dari sampel tulang.
- Hingga kini, tim DVI telah menerima 15 sampel antemortem dari keluarga korban yang diharapkan dapat membantu mengungkap identitas 16 jenazah. Termasuk satu korban anak-anak.
RRI.CO ID, Palembang - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri mengandalkan pemeriksaan deoxyribonucleic acid (DNA) dari sampel tulang. Hal ini untuk mengidentifikasi 17 jenazah korban tabrakan bus ALS dengan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatra Selatan.
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayati mengatakan mayoritas sampel diambil dari bagian tulang yang masih berwarna kemerahan. Karena jaringan lunak korban telah rusak akibat panas api saat kecelakaan terjadi.
“Dalam kondisi sekarang ini, kita mengambil tulang, kita juga memilih tulang yang masih merah, yang kira-kira masih ada DNA-nya. Karena kalau tulangnya sudah jadi arang, tidak bisa,” ujar Wahyu dalam konferensi pers di Palembang, Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurutnya, proses identifikasi melalui ciri fisik maupun properti pribadi mengalami kendala. Karena sebagian besar barang milik korban terlepas dari tubuh saat insiden yang menyebabkan bus ALS terbakar hebat.
Ia pun menyebut, metode identifikasi melalui data gigi yang biasanya menjadi pembanding utama juga sulit dilakukan. Karena, kondisi gigi korban disebut telah rapuh dan hancur akibat suhu panas yang sangat tinggi saat kebakaran.
Tim DVI sebelumnya berharap identifikasi dapat dilakukan melalui pemeriksaan gigi sebagaimana pada sejumlah kasus kebakaran sebelumnya. Namun, besarnya kobaran api dalam kecelakaan tersebut menyebabkan sebagian besar tulang korban, termasuk gigi, mengalami kerusakan berat.
“Karena apinya sangat besar sehingga sebagian besar tulang, termasuk gigi, itu juga menjadi rapuh,” ujarnya. Untuk pemeriksaan DNA, tim memperkirakan membutuhkan waktu paling cepat lima hari guna memperoleh profil DNA yang akurat.
Hingga kini, tim DVI telah menerima 15 sampel antemortem dari keluarga korban yang diharapkan dapat membantu mengungkap identitas 16 jenazah. Termasuk satu korban anak-anak.
“DNA-nya itu memang agak lama. Paling cepat itu lima hari. Kita mohon doanya supaya bisa muncul semua profil DNA,” kata Wahyu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....