Jateng Siaga Hadapi Kekeringan Musim Kemarau 2026

  • 15 Apr 2026 15:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino dengan mengacu pada pengalaman sebelumnya.
  • Langkah antisipasi dilakukan melalui penyediaan air bersih, edukasi masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan tahun ini. Langkah ini dipicu prediksi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang disampaikan BMKG.

Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catur, menegaskan pentingnya belajar dari kejadian sebelumnya. Ia menyebut kekeringan merupakan siklus yang berulang dan pernah terjadi pada 2019 serta 2023.

Menurutnya, informasi dari BMKG menunjukkan potensi cuaca ekstrem tahun ini. “Kemarau diperkirakan berlangsung sekitar enam bulan dan akan dimulai April ini,” ujar Bergas, dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Rabu, 15 April 2026.

Ia menjelaskan wilayah Jawa Tengah saat ini masih dalam masa transisi. Hujan lebat dan banjir, lanjutnya, masih terjadi di beberapa wilayah, karena El Nino belum sepenuhnya masuk wilayah barat.

Meski demikian, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi ancaman kekeringan tersebut. Antisipasi dilakukan dengan memetakan daerah terdampak berdasarkan data historis.

“Wilayah seperti Klaten, Sragen, Grobogan, Blora, dan Rembang tentu menjadi perhatian utama. Karena daerah-daerah tersebut kerap mengalami keterbatasan suplai air bersih saat kemarau panjang,” katanya.

Untuk itu, Bergas mengatakan pemerintah harus hadir dengan menyiapkan anggaran dan layanan distribusi air bersih. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia usaha dan masyarakat.

“Melihat historis sebelumnya, program CSR dari perusahaan sudah berjalan membantu melakukan dropping air). Tentunya ini untuk segera terkomunikasi kembali agar bisa melayani masyarakat,” kata Bergas.

Selain itu, edukasi masyarakat terus diperkuat melalui program menabung air. Warga didorong menyimpan air saat musim hujan untuk kebutuhan beberapa hari ke depan.

Langkah lain meliputi penyediaan tandon air dan pembangunan jaringan antarwilayah. Upaya ini bertujuan mengurangi risiko krisis air bersih selama musim kemarau.

Selain antisipasi kekeringan, Bergas juga mengingatkan potensi kebakaran hutan saat musim kemarau berlangsung. Ia menilai upaya pencegahan, penting dilakukan karena dampaknya bisa memicu bencana lain saat musim hujan.

“Menjaga hutan agar tidak terbakar menjadi kunci mitigasi jangka panjang,” ujarnya. Kesiapsiagaan masyarakat dinilai penting untuk mengurangi dampak El Nino secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....