BNPB Targetkan Bangun 695 Huntap Mandiri di Sumbar

  • 15 Jul 2026 18:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan pembangunan 695 unit hunian tetap (huntap) mandiri
  • Bagi warga terdampak banjir dan tanah longsor yang diperparah oleh Siklon Senyar di Provinsi Sumatera Barat
  • Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan skema huntap mandiri dipilih untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana

RRI.CO.ID, Padang - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan pembangunan 695 unit hunian tetap (huntap) mandiri. Bagi warga terdampak banjir dan tanah longsor yang diperparah oleh Siklon Senyar di Provinsi Sumatera Barat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan skema huntap mandiri dipilih untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. "Pilihan ini memungkinkan pembangunan huntap berjalan lebih cepat karena lahan relokasi telah tersedia, sehingga BNPB dapat segera memulai pembangunan," kata Abdul Muhari, Rabu, 15 Juli 2026.

Ia menjelaskan, melalui skema huntap mandiri, warga dapat membangun kembali rumah yang mengalami kerusakan berat di atas lahan milik sendiri (in situ). Sementara itu, pada skema huntap komunal, pemerintah daerah harus terlebih dahulu menyiapkan lahan relokasi sebelum pembangunan dapat dilaksanakan.

Berdasarkan data BNPB per 13 Juli 2026, target pembangunan 695 unit huntap tersebar di Kabupaten Padang Pariaman sebanyak 457 unit, Tanah Datar 101 unit, Lima Puluh Kota 49 unit, Agam 29 unit, Pasaman Barat 28 unit. Lalu Pesisir Selatan 15 unit, Kota Pariaman delapan unit, Pasaman empat unit, Kota Padang Panjang empat unit, serta usulan baru dari Kota Padang sebanyak 22 unit.

Seluruh hunian akan dibangun dengan standar rumah tipe 36 yang dilengkapi dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur. Dalam pelaksanaannya, BNPB bekerja sama dengan PT Semen Padang melalui pemanfaatan teknologi Sepablock, yakni material bata saling mengunci (interlocking) yang memiliki keunggulan ramah gempa, ramah lingkungan, dan mempercepat proses konstruksi.

Abdul menegaskan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menerapkan prinsip membangun kembali secara lebih aman, lebih baik. Dan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....