Tumbang dan Kacimuih Cemilan Laris Saat Ramadan
- 28 Mar 2024 17:07 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi : Makanan tradisional yang enak sehat dan alami saat ini sudah sulit di temukan. Seperti tumbang ubi dan kacimuih yang merupakan cemilan minang yang legendaris. Dan saat ini mulai digantikan oleh cemilan kekinian yang tampilannya lebih bervariasi dan menarik. Tidak serta merta banyak anak-anak zaman sekarang, jika ditanya perihal cemilan tradisional tersebut, tidak mengetahui bentuk dan rasanya.
Seperti tumbang ubi dan kacimuih merupakan cemilan khas dari ranah minang. Cemilan khas ranah minang ini sudah hampir dilupakan, karena sudah jarang masyarakat memproduksinya. Kalau pun ada itu ditemui penjual di pasar tradisional hanya di beberapa tempat. Cemilan yang terbuat dari singkong ini secara turun temurun sudah dikonsumsi oleh nenek moyang sejak dahulunya, bahkan menjadi makanan pokok dalam kehidupan.
Tumbang merupakan olahan dari singkong yang direbus ini dihaluskan, dibentuk sedemikian rupa,ditambahkan gula merah serta taburkan parutan kelapa membuat cemilan ini memiliki rasa yang manis dan nikmat. Makanan tersebut mulai digantikan oleh cemilan kekinian yang tampilannya lebih bervariasi dan menarik. Tidak serta merta banyak anak-anak zaman sekarang, jika ditanya perihal cemilan tradisional tersebut, tidak mengetahui bentuk dan rasanya. Kendatinya dalam pembuatannya bahan yang digunakan tidak terlalu sulit untuk ditemukan, hanya menggunakan singkong, kelapa parut (bagian yang putih), gula merah, daun pandan, garam, dan vanile.
Sementara kacimuih sendiri juga di buat dari ubi yang di parut kemudian di kukus, saat penyajian kacimuih ditaburi dengan kelapa parut muda dan gula, ada yang menggunakan gula putih tapi ada juga yang menaburinya dengan gula saka. talupa saat membeli para penjualnya membungkus makanan tradisional ini dengan daun pisang, sehingga membuat makan tersebut mepunyai aroma daun yang khas.
Namun di saat ramadan ini cemilan dari ubi yakni Tumbang dan kacimuih bisa di dapatkan di beberapa pasa pabukooan yang ada, biasanya pada penjual Tumbang dan kacimuih tersebut menjual makanan tradisional dari bahan ubi itu menggunakan katidiang. seperti uni Upik yang berjualan di rel kereta api pasar bawah mengatakan " Kalau di ketika ramadan ini tumbang dan kacimuih ini lebih cepat habis, di banding hari biasanya dan ambo hanya menjualnya di sore hari saja, tidak perlu dari pagi seperti hari biasanya "Jadi ramandan bukan saja bulan ibadah, tapi juga bisa di jadikan bulan nostalgia makanan tradisional. (ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....