Mimpi Bertemu Nabi Muhammad SAW

  • 14 Mar 2024 08:31 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin : Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan bahwa من رأني في المنام فقد رأني حقا، فإن الشيطان لايتمثل بي. (“Barangsiapa melihatku di dalam tidurnya maka sesungguhnya ia telah melihat aku yang sebenarnya. Karena syaithan tidak bisa menyerupaiku”).

Kenyataannya, ada yang bercerita bahwa Ia bertemu Nabi dalam bentuk cahaya yang masuk ke dalam dirinya. Ada juga yang menyatakan bahwa ia melihat sosok nabi dalam bentuk seseorang yang berkopiah hitam, memakai sarung dan merokok.

Dr.Muhammad Rusydi, M.Ag dari UIN Antasari Banjarmasin menjelaskan, Adapun bagi orang yang tidak pernah bertemu, maka gambaran visual biasanya mengiringi sebuah pengakuan, apakah visual itu cahaya, berbentuk orang dan lain sebagainya. Ini tentu kembali kepada jawaban bahwa orang yang mengaku itu harus sesuai dengan deskripsi, misalnya, yang digambarkan dari Syamail al-Muhammadiyyah, dalam acara Nur Ramadhan di Pro 1 RRI Banjarmasin, (13/3/2024), sore.

Ustadz Rusydi mengatakan, Dalam hal ini, ia memiliki pendapat yang berbeda. Pertama, apa yang disampaikan Nabi itu adalah benar dan orang bermimpi nabi dalam bentuk apa pun itu adalah Nabi dalam kesempurnaan beliau. Bentuk-bentuk yang beragama itu adalah abstraksi dari diri sang pemimpi dan tidak mempengaruhi kesempurnaan Nabi, jelasnya ".

Jadi, bagaimanapun bentuk Rasulullah di dalam mimpi, itu adalah Rasulullah namun tampilan Rasulullah itu akan berbeda beda selain karena kualitas jiwa kita yang menentukan juga kehendak Allah untuk menampilkannya. Jika kualitas jiwa kita rendah maka tampilan Rasulullah yang sempurna akan berubah agak rendah. Ibarat cahaya matahari yang sempurna dilihat oleh sesuatu yang berada di bawah meja maka cahayanya akan remang-remang, tidak sempurna.

Begitu juga sebaliknya, orang yang lebih suci jiwanya maka cenderung melihat kesempurnaan Rasulullah. Jadi, kualitas jiwa sang pemimpi atau orang yang bertemu menentukan hal tersebut. Ustadz Rusdy mengatakan, oleh karena itu isti’dat / persiapan menjadi penting, karena Pertama, apa yang disampaikan Nabi itu adalah benar dan orang bermimpi nabi dalam bentuk apa pun itu adalah Nabi dalam kesempurnaan beliau.

Kedua, yang penting dari mimpi itu bukan mimpinya tapi apa yang diajarkan dan atsar (bekas) mimpi tersebut setelah kita bermimpi yang harusnya membentuk kita lebih mulia dan dekat dengan Allah, bukan menjadi sombong dan merasa hebat. Ketiga, semua orang bisa ditemui Nabi baik dalam mimpi maupun terjaga, terhadap orang yang baik ataupun buruk karena beliau adalah sebab/induk keberadaan dan keragamaan ini dengan ijad (pengadaan) Allah.

Keempat, bertemu dengan nabi dalam mimpi dan/atau terjaga adalah sebuah harapan dan kebahagiaan, tetapi tidak bertemu beliau jangan bersedih sebab yang utama bukan bertemunya tapi keimanan kepada beliau dan kerinduan yang ditanamkan di hati oleh Allah. Mungkin saja anda adalah orang yang tidak bermimpi tentang beliau namun ketika disebut nama beliau, hatimu menjadi tersentuh dan tak jarang airmatamu mengalir. Ini berarti merasakan kehadiran beliau.

Diakhir acara ustadz Rusdi mengatakan, menjaga rindu dengan melaksanakan segala yang dianjurkan beliau itu menjadi lebih utama dari mimpi tadi meskipun kita tetap berharap berjumpa dengan beliau meski dalam mimpi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....