Cerita Astronaut Berpuasa di Luar Angkasa: antara Misi dan Ibadah Ramadan

  • 03 Mar 2026 10:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ramadan mewajibkan umat Muslim menahan diri sejak terbit hingga terbenam matahari setiap hari. Namun bagaimana rasanya menjalankan puasa ketika matahari terbit dan terbenam hingga belasan kali dalam sehari di luar angkasa?

Di Bumi, perbedaan waktu puasa dipengaruhi letak geografis dan musim masing-masing negara. Di luar angkasa, tantangannya jauh lebih kompleks karena stasiun antariksa mengelilingi Bumi setiap sembilan puluh menit.

Astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS dapat menyaksikan sekitar enam belas kali matahari terbit dan terbenam dalam sehari. Kondisi ini tentu membuat penentuan waktu imsak dan berbuka tidak mungkin mengikuti siklus matahari secara langsung.

Dalam praktiknya, para astronaut muslim mengikuti zona waktu Universal Coordinated Time atau waktu Makkah. Pendekatan ini dipilih agar ibadah tetap teratur tanpa mengganggu keselamatan dan fokus misi.

Berikut kisah menarik sejumlah astronaut muslim yang pernah menjalani Ramadan di luar angkasa:

Sultan bin Salman Al Saud

Ia menjadi Muslim pertama di luar angkasa saat terbang bersama pesawat ulang-alik Space Shuttle Discovery pada 1985. Dalam bukunya Seven Days in Space, ia menceritakan sahur sebelum peluncuran, berpuasa di orbit, hingga merayakan Idul Fitri bersama kru.

Ia mengaku sempat merasa sangat lelah dan dehidrasi menjelang waktu berbuka di orbit. Rekan-rekannya tetap terjaga untuk menemaninya berbuka, sebuah momen yang ia sebut sangat menyentuh.

Sheikh Muszaphar Shukor

Astronaut asal Malaysia ini menghabiskan beberapa hari Ramadan di luar angkasa pada 2007. Ia diluncurkan menggunakan wahana Soyuz dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan.

Sebelum berangkat, ia menegaskan bahwa Islam memberi keringanan bagi musafir dan kondisi khusus. Ia bahkan mengadakan perayaan Idul Fitri sederhana di orbit dengan membawa sate dan kue khas Malaysia.

Hazza Al Mansouri

Astronaut pertama Uni Emirat Arab ini berada di ISS selama delapan hari pada 2019. Ia membagikan momen berdoa di luar angkasa serta menikmati hidangan tradisional Emirat seperti balaleet dan salona.

Sultan Al Neyadi

Astronaut UEA ini menjalani misi selama enam bulan di ISS dan melewati Ramadan di orbit. Ia menyebut dirinya termasuk kategori musafir sehingga mendapat keringanan untuk tidak berpuasa jika membahayakan kesehatan atau misi.

Menurutnya, menjaga kecukupan nutrisi dan cairan menjadi prioritas utama demi keselamatan seluruh kru. Ia menegaskan bahwa Islam tidak mewajibkan puasa bila kondisi fisik tidak memungkinkan.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa ibadah tetap dapat dijalankan meski dalam kondisi paling tidak biasa. Prinsip kemudahan dan keselamatan menjadi landasan utama ketika menjalankan kewajiban agama di luar atmosfer Bumi.

Pada akhirnya, cerita astronaut berpuasa di luar angkasa memperlihatkan sisi humanis eksplorasi antariksa. Di tengah teknologi canggih dan misi ilmiah, nilai spiritual tetap menemukan ruangnya, bahkan di orbit ratusan kilometer dari permukaan Bumi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....