Mengenal Tren 'War Takjil', Tradisi Berburu Makanan Berbuka Ramadan
- 18 Feb 2026 11:47 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap kegiatan berburu takjil menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu. Menjelang waktu berbuka, masyarakat berbondong-bondong mencari makanan dan minuman manis yang menggugah selera.
Bahkan, beberapa tahun terakhir, muncul fenomena “war takjil”, yakni fenomena ketika masyarakat berlomba-lomba mendapatkan makanan berbuka favorit. Baik di pasar tradisional maupun melalui pemesanan daring.
Takjil merupakan bagian penting dari berbuka puasa. Beberapa jenis takjil selalu menjadi incaran utama, seperti kolak pisang, es campur, gorengan, kurma, dan aneka minuman segar.
Permintaan tinggi terhadap jenis takjil tertentu sering menyebabkan stok cepat habis dalam hitungan menit. Di beberapa tempat, antrean panjang bahkan sudah terbentuk jauh sebelum penjual membuka lapaknya.
Selain itu, beberapa restoran cepat saji dan toko roti juga merasakan efek dari fenomena ini. Banyak gerai makanan yang menawarkan menu khusus Ramadhan.
Fenomena ini semakin terasa dalam penjualan daring. Sistem pre-order atau flash sale sering kali menjadi ajang persaingan sengit.
Lantas dari manakah fenomena war takjil ini berasal? Melansir berbagai sumber, berikut adalah penjelasannya.
- Viral Berkat Media Sosial
Media sosial berperan besar dalam mempopulerkan war takjil. Rekomendasi dari food reviewer atau tren viral sering membuat satu jenis makanan jadi buruan utama.
Unggahan di TikTok, Instagram, atau Twitter yang menampilkan kelezatan suatu takjil bisa langsung meningkatkan permintaan. Tak jarang, pedagang pun memanfaatkan media sosial untuk mengiklankan dagangan mereka, lengkap dengan sistem pre-order untuk menghindari kekecewaan pelanggan.
Namun, efek sampingnya, makanan tertentu bisa langsung ludes dalam hitungan detik. Membuat pembeli lain harus lebih sigap untuk mendapatkannya.
- Tak Hanya Dilakukan Umat Muslim
Fenomena war takjil ternyata tidak hanya dilakukan oleh umat Muslim yang sedang berpuasa. Banyak masyarakat non-Muslim juga ikut berburu takjil karena tertarik dengan aneka jajanan khas Ramadhan yang hanya muncul di bulan ini.
Berbekal rasa penasaran, banyak dari mereka yang turut ingin merasakan euforia war takjil. Dagangan takjil yang kerap dijajakan di pinggir jalan menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta kuliner sehingga suasana di lokasi penjualan semakin ramai.
Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya soal ibadah. Tetapi juga momen kebersamaan dan keberagaman dalam menikmati kuliner lezat.
- Strategi Jitu Menang War Takjil
Agar tidak kehabisan, banyak orang menerapkan berbagai strategi. Beberapa di antaranya datang lebih awal ke pasar takjil.
Dua jam menuju waktu berbuka, pasar takjil biasanya tampak sudah ramai pengunjung. Strategi lainnya adalah membuat daftar takjil incaran agar tidak bingung saat membeli atau memanfaatkan fitur pre-order.
Beberapa orang yang enggan mengantre dan berdesakan bahkan memilih untuk memesan melalui jasa titip (jastip). Atau membayar orang lain untuk membelikan takjil yang diinginkan.
Sementara itu, pelanggan setia sering mendapat keuntungan lebih. Karena pedagang biasanya sudah mengenali mereka dan menyisihkan pesanan lebih dulu.
- Berbagai Dampak War Takjil
Di satu sisi, war takjil meningkatkan omzet pedagang dan meramaikan ekonomi Ramadhan. Pedagang kaki lima, UMKM, hingga restoran besar mengalami peningkatan penjualan yang signifikan.
Tradisi berburu takjil juga mempererat hubungan sosial. Terutama saat orang-orang saling berbagi rekomendasi atau bahkan membeli takjil dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada orang lain.
Kegiatan membeli takjil bersama keluarga atau teman juga menjadi kegiatan ngabuburit yang menyenangkan. Sehingga hal ini bisa menambah kehangatan dalam hubungan kekeluargaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....