Ragam Tradisi Menyambut Ramadan di Tanah Pasundan
- 12 Feb 2026 10:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Umat Islam siap menyambutnya Ramadan dengan rasa bahagia dan penuh harap. Bagi masyarakat Sunda, kedatangan Ramadan bukan hanya sebagai pergantian waktu ibadah, tetapi juga momentum menata diri secara lahir dan batin.
Di berbagai wilayah Jawa Barat, kebahagiaan menjelang Ramadhan diekspresikan melalui tradisi turun-temurun. Tradisi tersebut merupakan kegiatan yang sarat nilai spiritual, kebersamaan, serta refleksi diri sebelum memasuki bulan puasa.
Mulai dari Priangan Timur, Tengah, hingga Barat, masyarakat memiliki kebiasaan yang relatif serupa. Kegiatan tersebut seperti makan bersama, ziarah kubur, hingga membersihkan diri.
Meski begitu, setiap daerah menghadirkan penamaan dan kekhasan tersendiri yang menyimpan makna mendalam dalam menyambut bulan suci. Berikut rangkuman tradisi masyarakat Sunda-Islam dalam menyambut bulan Ramadhan:
1. Nyepuh
Tradisi Nyepuh berasal dari kata nyipuh yang bermakna membersihkan atau menempa diri agar menjadi lebih baik. Tradisi ini masih dijaga oleh masyarakat Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Pelaksanaannya dimulai sejak bulan Rewah atau Sya’ban, dengan kegiatan membersihkan lingkungan sekitar, seperti selokan dan halaman rumah. Pada pekan terakhir, warga melanjutkannya dengan membersihkan makam para leluhur.
Sehari menjelang Ramadhan, masyarakat berkumpul di area pemakaman yang telah dibersihkan. Mereka membawa bahan makanan, kemudian memasaknya bersama dan ditutup dengan doa bersama.
2. Misalin
Misalin merupakan tradisi yang berkembang di sekitar Situs Bojong Salawe, Kabupaten Ciamis. Istilah Misalin berasal dari gabungan kata mi yang berarti melakukan, dan salin yang berarti berganti.
Dalam pelaksanaannya, warga datang sejak pagi hari dengan membawa bekal makanan dalam wadah khas bernama pontrang. Kegiatan ini diiringi hiburan tradisional seperti pencak silat, yang menambah suasana kebersamaan.
Rangkaian Misalin diawali dengan ritual Ngadamar pada malam sebelumnya. Warga berkumpul di area situs untuk berdoa bersama dan mengirimkan doa bagi para leluhur.
3. Kuramasan
Kuramasan berasal dari kata kuramas atau berkeramas. Tradisi ini dikenal luas di hampir seluruh wilayah Sunda sebagai simbol penyucian diri menjelang Ramadhan.
Kuramasan dilakukan dengan mandi menyeluruh, mirip mandi besar, dan dilaksanakan oleh semua kalangan, termasuk anak-anak. Tradisi ini menekankan kesiapan lahir dan batin sebelum menjalankan ibadah puasa.
Kuramasan juga dilakukan di wilayah Cimaragas, bahkan sering dilaksanakan di sungai. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya mengembalikan kesucian diri sebelum memasuki bulan Ramadhan.
4. Munggahan
Munggahan berasal dari kata unggah yang berarti naik, dimaknai sebagai peningkatan menuju tingkat spiritual yang lebih baik. Tradisi ini populer di wilayah Priangan Tengah, terutama Bandung Raya.
Munggahan biasanya diisi dengan kegiatan makan bersama keluarga atau tetangga pada hari terakhir menjelang Ramadhan. Kebiasaan saling bertukar lauk menjadi simbol berbagi dan mempererat hubungan sosial.
Munggahan mengajarkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Masyarakat diingatkan untuk tidak berlebihan dalam menyiapkan makanan, melainkan saling berbagi agar lebih bermanfaat.
5. Papajar
Papajar atau berburu fajar berkembang di wilayah Priangan Barat, seperti Cianjur dan Sukabumi. Tradisi ini dilakukan dengan bepergian ke tempat wisata terdekat bersama keluarga.
Kegiatan Papajar umumnya berlangsung satu hingga dua hari sebelum Ramadhan. Warga membawa bekal makanan dari rumah untuk disantap bersama, tanpa bermaksud berwisata jauh atau berlama-lama.
Setelah makan bersama, keluarga menghabiskan waktu untuk bersantai dan berbincang hingga siang hari. Tradisi ini menjadi cara sederhana untuk menyegarkan fisik dan menenangkan batin sebelum menjalani ibadah Ramadhan secara penuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....