Grebeg Sura Baturraden Dorong Pelestarian Budaya dan Tingkatkan Ekonomi Warga

  • 14 Jul 2026 14:31 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Grebeg Sura kembali digelar di kawasan Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, sebagai tradisi tahunan masyarakat dalam menyambut datangnya bulan Sura.

Kegiatan yang dipadukan dengan festival budaya tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi dan kearifan lokal, tetapi juga dimanfaatkan sebagai upaya mendorong kunjungan wisatawan serta menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam sambutan Bupati Banyumas yang dibacakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Junaidi, disampaikan bahwa Grebeg Sura memiliki makna yang lebih dari sekadar tradisi tahunan.

"Grebeg Sura bukan sekadar sebuah tradisi tahunan. Lebih dari itu, Grebeg Sura merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan nikmat, sekaligus wujud penghormatan kepada nilai-nilai leluhur yang diwariskan oleh para leluhur," tutur Junaidi saat membacakan sambutan Bupati Banyumas, Minggu (12/7/26).

Menurutnya, tradisi tersebut mengajarkan masyarakat untuk hidup selaras dengan alam, memperkuat persaudaraan, menjaga semangat gotong royong, serta melestarikan budaya sebagai jati diri masyarakat Banyumas.

Ia menambahkan, Baturraden memiliki posisi strategis sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Banyumas. Karena itu, penyelenggaraan Festival dan Grebeg Sura menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi wisata daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

"Penyelenggaraan Festival dan Grebeg Sura menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi Baturraden kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan yang pada akhirnya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat," ujarnya.

Dampak penyelenggaraan Grebeg Sura tidak hanya dirasakan dari meningkatnya kunjungan wisatawan, tetapi juga oleh para pelaku UMKM di kawasan Lokawisata Baturraden. Salah seorang pedagang makanan, Warsinah, mengaku penjualannya meningkat signifikan selama acara berlangsung.

Ia mengatakan, menu yang paling banyak diburu pengunjung adalah pecel dan mendoan, sementara harga jual tetap sama seperti hari biasa.

"Kalau hari-hari biasa pendapatan paling sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Kalau ada acara seperti ini bisa sampai Rp500 ribu. Gorengan satunya Rp2.500, kalau pecel Rp10.000," ujar Warsinah.

Melalui penyelenggaraan Grebeg Sura, Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap tradisi budaya dapat terus lestari sekaligus menjadi penggerak sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku budaya, pelaku usaha, dan masyarakat, Grebeg Sura diharapkan terus menjadi agenda budaya yang mampu memperkuat identitas Banyumas serta memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. (Artika).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....