Pengelola Bhumi Bambu Baturraden Perketat Antisipasi Risiko Wisata Alam

  • 26 Mar 2026 07:23 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Meningkatnya kunjungan wisata, terutama saat libur Lebaran, aspek keselamatan menjadi perhatian utama di sejumlah destinasi alam, termasuk Bhumi Bambu di kawasan Baturraden. Pengelola wisata alam Bhumi Bambu Baturraden, Agus Cahyo Rahmanto, menegaskan bahwa keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama meskipun destinasi tersebut tergolong wisata dengan sumber daya terbatas namun memiliki potensi risiko yang cukup tinggi.

Agus menjelaskan, karakteristik lingkungan Bumi Bambu yang didominasi tanaman bambu justru relatif lebih aman dibandingkan pepohonan besar, terutama saat terjadi angin kencang. Menurutnya, bambu memiliki sifat lentur sehingga tidak mudah patah dan membahayakan.

Saat ini, pengelola juga belum melakukan penebangan rutin bambu. Mereka masih dalam tahap konservasi untuk memperbanyak tegakan. Rencana penebangan secara berkala baru akan diterapkan dalam siklus lima tahunan agar bambu yang sudah tua dapat dimanfaatkan tanpa terbuang sia-sia.

Dalam hal keselamatan di area curug, pihak pengelola telah menyiapkan berbagai fasilitas, termasuk lifeguard, pelampung (ring buoy), serta tali lempar (throw rope). Agus menuturkan, penggunaan tali lempar menjadi prioritas utama dalam kondisi darurat karena dinilai lebih aman dan efektif.

“Tali lempar itu teknik yang biasa dipakai di arung jeram. Lebih akurat dan minim risiko dibanding pelampung yang berat,” jelasnya beberapa hari lalu. .

Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa pengunjung, khususnya yang belum terbiasa dengan wisata alam, kerap mengalami kondisi darurat seperti kedinginan hingga pingsan akibat suhu air yang rendah. Oleh karena itu, pihak pengelola terus meningkatkan edukasi kepada wisatawan agar lebih berhati-hati.

“Kami selalu mengingatkan pengunjung, terutama yang belum pernah ke curug, supaya tidak langsung turun ke air. Harus adaptasi dulu,” katanya.

Selain itu, pengelola juga menekankan pentingnya respons cepat dalam penanganan keadaan darurat. Mereka bahkan mempertimbangkan akses fasilitas kesehatan terdekat yang dinilai paling sigap dalam menangani pasien, meskipun jaraknya tidak selalu paling dekat.

Agus juga mengingatkan bahwa wisata alam memiliki risiko yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan dan wisatawan diminta untuk tetap waspada dan berwisata secara bijak. Pihak pengelola berharap kunjungan wisatawan dapat terdistribusi secara merata ke berbagai destinasi, sehingga tidak terjadi penumpukan di satu lokasi yang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....