PLTA Ketenger: Warisan Kolonial Belanda yang Masih Menyala

  • 29 Jan 2026 15:32 WIB
  •  Purwokerto

KBRN Banyumas: Waterkrachtcentrale atau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ketenger merupakan salah satu warisan teknologi kolonial Hindia Belanda yang hingga kini masih beroperasi. Pembangunan pembangkit ini menjadi tonggak awal elektrifikasi di Karesidenan Banyumas, sekaligus menandai masuknya teknologi energi modern ke wilayah tersebut pada awal abad ke-20.

Perencanaan PLTA Ketenger telah dimulai sejak 1918 dan memperoleh persetujuan resmi pada 20 November 1926. Proyek ini dikerjakan oleh Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) dengan biaya sekitar 1,5 juta gulden, serta dirancang oleh insinyur G.S. Gumans. Pada masanya, proyek ini merupakan salah satu pembangunan infrastruktur energi terbesar di Banyumas.

Untuk menggerakkan turbin, hulu Sungai Banjaran dibendung guna memanfaatkan debit air yang besar. Air dialirkan melalui saluran terbuka dan tertutup, gorong-gorong, serta pipa tekan sepanjang lebih dari satu kilometer menuju rumah pembangkit di Ketenger. Seluruh sistem ini dibangun di kawasan berbukit dengan medan yang sulit dijangkau.

Jejak rel lori yang melintasi sungai sebagai infrastruktur penunjang pembangunan PLTA Ketenger (foto: dok. RRI/ Ula)

Kondisi geografis tersebut mendorong pembangunan infrastruktur pendukung berupa jalur rel lori. Rel ini berfungsi sebagai sarana utama pengangkutan material konstruksi, mulai dari semen, besi, hingga peralatan teknis, menuju lokasi pembangunan PLTA. Pada masa itu, jalan darat belum tersedia, menjadikan rel lori sebagai solusi teknologi yang krusial.

Pembangunan PLTA sempat terhenti pada 1929 dan baru dilanjutkan kembali hingga rampung pada 1939. Meski demikian, jaringan listrik dari Ketenger telah lebih dulu dialirkan ke sejumlah wilayah, seperti Purbalingga, Wonosobo, dan Cilacap, dan dikelola oleh Electriciteit Maatschappij Banjoemas (EMB).

Pipa PLTA yang nampak dari jalan sebagai infrastruktur utama yang masih berfungsi hingga sekarang (foto: dok. RRI/ Ula)

Sekitar 600 pekerja peribumi terlibat dalam proses pembangunan, mengangkut material secara manual melalui jalur rel lori dan medan yang berat. Rel lori, dengan demikian, bukan sekadar jalur angkut, melainkan bagian penting dari sistem teknologi kolonial yang memungkinkan proyek besar ini dapat terwujud.

Hingga kini, PLTA Ketenger masih aktif menyalurkan listrik. Bersama jejak rel lori yang tersisa dan menyatu dengan alam. Pembangkit ini menjadi penanda sejarah hubungan antara teknologi, lanskap alam, dan kebutuhan energi di Banyumas Raya sebuah warisan infrastruktur kolonial yang jejaknya masih dapat dibaca melalui ruang dan jalur yang ditinggalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....