Kebun Melon Hidroponik Lara’s: Menghasilkan Rupiah, Melahirkan Sarjana

  • 19 Jan 2025 18:10 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Banyak orang beranggapan bahwa menanam buah melon membutuhkan biaya besar dan perawatan yang rumit. Namun, di mata Sugeng Prayitno, membudidayakan melon merupakan hal yang mudah, murah, dan menghasilkan.

Berawal dari passion-nya di bidang pertanian, warga Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas ini, membangun greenhouse melon yang dinamai Lara's, hanya beberapa langkah dari rumahnya. Kebun Melon Hidroponik Lara's miliknya berbeda dengan kebun melon konvensional lainnya karena menggunakan metode hidroponik.

Menariknya, Sugeng memanfaatkan barang-barang bekas sebagai media tanam, sehingga biaya produksinya lebih murah dan tentunya ramah lingkungan. Sugeng memilih metode hidroponik karena tidak membutuhkan lahan yang luas dan perawatan yang relatif mudah dibanding kebun konvensional.

Selain itu, buah melon yang dihasilkan memiliki kualitas dan nilai ekonomi lebih tinggi. Sugeng menyebut, melon hidroponik bisa mencapai tingkat kemanisan sampai 16-19 brix, sedangkan buah melon dari kebun terbuka rata-rata 8-10 brix.

“Kami memanfaatkan barang-barang tidak terpakai. Misalnya menggunakan kaleng cat bekas ukuran 5 kilogram untuk sistem dutch bucket. Biasanya kalau dutch bucket pakai kotak es yang cukup mahal, tapi kami pakai kaleng cat bekas. Insya Allah hasilnya bisa maksimal seperti menggunakan alat-alat mahal,” kata Sugeng kepada RRI.

“Sementara, untuk yang sistem apung, kebanyakan pakai talang letter U. Namun, kami pakai papan kayu yang dilapisi dengan plastik mulsa hitam-perak,” ucap Sugeng menambahkan.

Berkat ketekunan dan usaha kerasnya, Sugeng kini memiliki tiga kebun melon hidroponik yang ditanami buah melon dengan kualitas premium. Setiap kebun bisa ditanami sampai puluhan pohon melon. Buah melon yang dibudidayakan di Kebun Lara's adalah melon-melon varietas unggul, di antaranya golden aroma, sweet net, rangipo, dan apollo.

“Untuk panen bergantung pada jenis melonnya. Untuk melon yang bernet antara 80-85 hari, sedangkan yang kuning-kuning tanpa net lebih sebentar, 60-65 hari. Hasil panen Rp 2,8 juta untuk greenhouse dengan jumlah tanaman 66 pohon, seperti di Kelompok Wanita Tani (KWT) yang kami damping dan berbanding lurus dengan jumlah tanaman yang ada,” tutur Sugeng.

“Kami pernah memasok ke minimarket dan salah satu supermarket terbesar di Purwokerto. Namun, karena produksinya sementara belum banyak, melonnya sudah habis duluan dibeli masyarakat yang datang, jadi belum bisa memasarkan dalam jumlah besar. Bu Erna, istrinya Pak Achmad Husein dan Bu Eni istrinya Pak Sadewo (bupati terpilih Banyumas), sering pesan di sini,” imbuhnya.

Beberapa nama di dalam foto ini meraih gelar Sarjana Pertanian (S.P) setelah melakukan penelitian di Kebun Melon Hidroponik Lara's.

Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa kebun miliknya tidak mengutamakan sisi komersil, tetapi juga diperuntukkan sebagai kebun edukasi. Diakuinya, sudah banyak sarjana yang lahir dari Kebun Melon Hidroponik Lara's. Bahkan, Sugeng dengan sukarela memfasilitasi kebutuhan setiap mahasiswa, yang melakukan penelitian di kebun miliknya.

“Sudah ada lebih dari 15 mahasiswa dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang melakukan penelitian skripsi di sini. Kebun ini juga diperuntukkan bagi mahasiswa yang kurang mampu. Semuanya gratis melakukan penelitian di sini, bahkan kami biayai,” kata Sugeng.

Sugeng tidak hanya fokus pada produksi melon, tetapi juga aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Melalui kebun Lara’s, ia membuka kesempatan bagi siapa saja untuk belajar dan berlatih budi daya melon hidroponik.

“Kami pernah menggelar edukasi di Kecamatan Karanglewas, juga instansi pemerintah dalam bentuk bimbingan teknis (bimtek) tujuh sampai delapan kali pertemuan. Kemudian di SDN 1 Kranji Purwokerto kami mengajarkan bagaimana menanam melon hidroponik, dari menyemai sampai panen. Untuk luar Banyumas, kami pernah diundang ke Cilacap untuk mengisi pelatihan,” ucap Sugeng.

Dengan inovasi, semangat, dan ketekunan, Sugeng Prayitno yakin, budidaya melon hidroponik dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan dan memberdayakan masyarakat. (FR).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....