Self talk dan Resistensi Kritik: Perspektif Psikologi Komunikasi Islam
- 05 Okt 2026 16:21 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Setiap hari kita berbicara dengan keluarga, teman, rekan kerja, atau siapa pun yang kita temui. Tapi pernahkah kita sadar bahwa ada satu percakapan yang paling sering kita lakukan, namun paling jarang kita perhatikan? Percakapan itu adalah percakapan dengan diri sendiri. Sebuah dialog yang terjadi di dalam kepala, tanpa suara, tanpa lawan bicara yang terlihat, tapi dampaknya besar sekali terhadap cara kita menjalani hidup.
Komunikasi dengan diri sendiri bukanlah tanda kegilaan. Justru sebaliknya, itu adalah hal yang paling manusiawi. Sebelum kita berbicara kepada orang lain, biasanya ada suara di dalam kepala yang lebih dulu berbicara. Saat kita bangun pagi, ada suara yang berkata, "Aduh, malas sekali hari ini." Saat kita mau mencoba sesuatu yang baru, ada suara yang berkata, "Kamu pasti gagal." Atau sebaliknya, ada suara yang berkata, "Ayo, kamu bisa." Semua itu adalah bentuk komunikasi dengan diri sendiri.
Dalam Islam, komunikasi dengan diri sendiri juga bukan hal yang asing. Al-Qur'an menyebutkan bahwa Allah mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati manusia, dan Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya.(Al Quran Surat Qaf ayat 16) Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga mengajarkan konsep muhasabah, yaitu introspeksi atau mengoreksi diri sendiri. Beliau bersabda bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Jadi, berdialog dengan diri sendiri bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memperbaiki.
Yang menarik, komunikasi dengan diri sendiri ini sangat menentukan bagaimana kita bereaksi terhadap dunia luar. Termasuk ketika kita menerima kritik. Banyak orang yang sulit sekali menerima kritik. Dikritik sedikit saja, langsung tersinggung. Diberi masukan, langsung membalas. Ditegur, langsung merasa diserang. Kenapa begitu? Jawabannya sering kali bukan karena kritiknya yang salah, tapi karena komunikasi dengan diri sendiri yang tidak sehat.
Coba kita pikirkan sejenak. Ketika seseorang mengkritik kita, apa yang pertama kali muncul di kepala? Apakah kita langsung berpikir, "Oh, ini masukan yang bagus, saya perlu mempertimbangkannya"? Atau yang lebih sering terjadi, kita langsung berpikir, "Siapa dia berani mengkritik saya?" Reaksi pertama itu muncul begitu cepat, bahkan sebelum kita sempat berpikir jernih. Itulah suara dari dalam diri. Dan suara itu, kalau tidak dikelola dengan baik, akan terus membuat kita defensif.
Kemampuan menerima kritik adalah bagian dari akhlak mulia. Umar bin Khattab pernah berkata, "Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku kekuranganku." Seorang pemimpin besar justru berdoa agar ada orang yang berani mengkritiknya. Bagi Umar, kritik adalah hadiah, bukan ancaman. Mengapa? Karena ia mengenal dirinya sendiri, sehingga tidak merasa harga dirinya runtuh ketika ada orang yang menunjukkan kesalahannya.
Masalahnya, banyak dari kita tidak pernah benar-benar belajar berdialog dengan diri sendiri. Kita lebih sibuk mendengar suara orang lain. Kita lebih sibuk membaca komentar di media sosial dan membandingkan hidup kita dengan kehidupan yang terlihat di layar. Akibatnya, suara dari dalam diri kita sendiri jadi asing. Kita tidak lagi kenal dengan pikiran kita sendiri.
Media sosial punya peran besar dalam hal ini. Setiap hari kita dibombardir dengan pendapat orang lain. Tanpa sadar, kita meniru cara mereka merespons kritik. Kita meniru cara marah, cara membalas, cara menghindar. Kita jarang sekali melihat contoh orang yang menerima kritik dengan tenang, lalu memprosesnya dengan jujur.
Dalam Islam, ada konsep waswas, yaitu bisikan negatif yang datang ke dalam hati, baik dari setan maupun dari hawa nafsu. Waswas inilah yang sering kali menjadi sumber kritikus batin yang keras. Ia membisikkan bahwa kita tidak berharga, bahwa kita selalu salah, bahwa kita tidak akan pernah cukup baik. Bisikan ini terdengar seperti suara kita sendiri, padahal ia datang dari luar.
Ketika kritik datang, kita tidak punya ruang di dalam diri untuk memprosesnya. Semua sudah penuh. Penuh dengan suara orang lain, penuh dengan ekspektasi, penuh dengan citra yang ingin kita jaga. Jadi kritik yang datang, sekecil apa pun, terasa seperti serangan besar. Ibarat gelas yang sudah penuh air, setetes kecil saja akan membuatnya tumpah.
Ada satu hal lagi yang membuat kita sulit menerima kritik: kita sudah lebih dulu mengkritik diri sendiri. Banyak orang tumbuh dengan suara di dalam kepala yang keras sekali menghakimi. "Kamu bodoh," "Kamu tidak becus," "Kamu selalu salah." Suara itu mungkin berasal dari pengalaman masa lalu, dari omongan orang tua, guru, atau teman yang pernah menyakiti. Suara itu terus terbawa sampai dewasa, dan tanpa sadar menjadi bagian dari cara kita berbicara kepada diri sendiri.
Suara-suara negatif ini dilawan dengan dzikir dan istighfar. Istighfar bukan hanya memohon ampun kepada Allah, tetapi juga sarana untuk membersihkan hati dari bisikan negatif. Ketika kita mengucapkan "Astaghfirullah", kita sedang mengakui bahwa kita tidak sempurna, tetapi sekaligus menegaskan bahwa kita tidak harus hancur karena ketidaksempurnaan itu.
Ketika kritik dari luar datang, kritik itu tidak diterima sebagai informasi baru. Kritik itu diterima sebagai pembenaran atas suara yang sudah ada di dalam. Orang lain bilang, "Pekerjaanmu kurang rapi," dan suara di dalam berkata, "Nah, benar kan, kamu memang tidak pernah bisa melakukan apa pun dengan benar." Akhirnya yang muncul bukan refleksi, tapi keputusasaan. Atau sebaliknya, kemarahan. Kita marah kepada orang yang mengkritik, padahal sebenarnya kita marah kepada suara di dalam diri sendiri yang terus-menerus menghakimi.
Marah kepada orang lain terasa lebih aman daripada marah kepada diri sendiri. Kalau kita marah kepada orang lain, kita bisa merasa benar. Kita bisa merasa menjadi korban. Kita bisa mendapatkan simpati. Tapi kalau kita marah kepada diri sendiri, kita hanya akan merasa semakin buruk. Maka tanpa sadar, kita memilih untuk melampiaskan kemarahan itu ke luar. Kita membalas kritik dengan serangan. Kita menutup telinga. Kita menghindar. Semua itu sebenarnya bentuk pelarian dari pertarungan yang lebih sulit: pertarungan dengan suara di dalam diri sendiri. Dalam Islam, ini disebut kelalaian dari muhasabah kita lebih sibuk mengoreksi orang lain daripada mengoreksi diri sendiri
Di sinilah pentingnya komunikasi dengan diri sendiri. Bukan komunikasi yang penuh penghakiman, tapi komunikasi yang jujur dan adil. Komunikasi yang memungkinkan kita berkata kepada diri sendiri, "Ya, aku memang membuat kesalahan. Itu tidak menyenangkan. Tapi itu tidak membuatku jadi manusia yang tidak berharga." Dalam Islam, komunikasi intrapersonal yang sehat dilandasi oleh muhasabah (introspeksi), muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah), dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ketiganya membuat kita jujur terhadap diri sendiri, sadar bahwa tidak ada yang luput dari pengawasan Allah, dan terus berusaha membersihkan hati dari sifat tercela.
Dalam Islam, harga diri seorang Mukmin tidak bergantung pada penilaian manusia, melainkan pada ketakwaannya kepada Allah. Allah berfirman bahwa yang paling mulia di antara manusia adalah yang paling bertakwa. Ayat ini membebaskan kita dari belenggu penilaian manusia. Kalau harga diri kita ditentukan oleh ketakwaan, maka kritik dari manusia tidak lagi menjadi ancaman. Kritik menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan, bukan untuk meruntuhkan harga diri.
Orang yang sehat secara batin tidak berarti tidak pernah merasa sakit ketika dikritik. Rasa sakit itu wajar. Yang membedakan adalah apa yang dilakukan setelah rasa sakit itu datang. Apakah kita membiarkan rasa sakit itu menguasai kita, atau apakah kita mendengarkannya, memahaminya, lalu melanjutkan hidup? Di situlah peran komunikasi dengan diri sendiri. Ia menjadi ruang di mana rasa sakit bisa diproses, bukan ditumpuk atau dilampiaskan.
Sayangnya, kemampuan ini tidak muncul begitu saja. Kita perlu melatihnya. Dalam Islam, latihan ini disebut riyadhah, yang dilakukan dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, dan merenungkan makna kehidupan. Caranya sederhana, meskipun tidak selalu mudah. Mulailah dengan memperhatikan suara di dalam kepala. Ketika ada kritik yang datang, jangan langsung bereaksi. Tarik napas. Tanya pada diri sendiri: apakah kritik ini benar? Apakah ada bagian yang bisa saya terima? Apakah saya sedang bereaksi karena kritiknya, atau karena suara lama di dalam kepala saya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu bisa membuka ruang dialog yang lebih sehat di dalam diri. Kita tidak lagi dikendalikan oleh reaksi otomatis. Kita mulai bisa memilih. Memilih untuk mendengar, memilih untuk menimbang, dan memilih untuk merespons dengan tenang. Bukan karena kita tidak peduli, tapi karena kita tahu diri kita terlalu berharga untuk dihancurkan oleh satu kritik.
Kemampuan menahan diri ini disebut hilm kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang memancing emosi. Rasulullah Shalallahu Alaiahi Wassalam adalah teladan tertinggi dalam hal ini. Ketika beliau dihina, beliau tidak membalas. Ketika beliau dikritik, beliau mendengarkan. Ketika beliau difitnah, beliau berdoa untuk kebaikan orang yang memfitnahnya. Inilah puncak komunikasi intrapersonal yang sehat: kemampuan untuk tetap tenang di tengah badai kritik, karena hati beliau terhubung dengan sumber ketenangan yang sejati.
Menerima kritik bukan berarti harus selalu setuju. Kita tetap boleh menolak kritik yang tidak benar. Tapi menolak dengan tenang jauh berbeda dengan menolak dengan kemarahan. Dalam komunikasi Islam, menolak dengan cara yang baik disebut jidal ahsan berdebat dengan cara yang paling baik. Kritik dan bantahan bukanlah ajang untuk saling menjatuhkan, melainkan sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Pada akhirnya, semua kembali kepada bagaimana kita berbicara kepada diri sendiri. Kalau di dalam kepala kita penuh dengan suara yang keras, menghakimi, dan tidak pernah puas, maka kritik dari luar akan selalu terasa menyakitkan. Tapi kalau di dalam kepala kita ada suara yang tenang, jujur, dan penuh pengertian, maka kritik dari luar akan terasa seperti angin yang lewat. Kadang terasa, kadang tidak. Tapi tidak sampai merobohkan kita.
Hati yang tenang adalah hati yang selalu terhubung dengan Allah. Dzikir, muhasabah, dan istighfar adalah bentuk-bentuk komunikasi intrapersonal yang menjaga hati tetap bersih dan jernih. Hati yang bersih tidak akan mudah goyah oleh kritik, karena ia tahu bahwa satu-satunya penilaian yang benar-benar penting adalah penilaian Allah.
Menerima kritik bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, itu adalah tanda kekuatan. Orang yang kuat bukanlah orang yang tidak pernah salah, tapi orang yang mampu mengakui kesalahannya tanpa merasa hancur. Dan kemampuan itu tidak datang dari luar. Ia datang dari dalam. Dari dialog yang jujur dan penuh kasih dengan diri sendiri.
Islam mengajarkan bahwa fitrah manusia adalah suci. Setiap bayi yang lahir membawa hati yang bersih, yang siap menerima kebenaran. Tapi seiring bertambahnya usia, hati itu bisa keruh oleh waswas, oleh pengalaman buruk, oleh lingkungan yang tidak sehat. Maka tugas kita sebagai Muslim adalah mengembalikan hati itu kepada fitrahnya. Mengembalikannya kepada keadaan di mana ia bisa menerima kebenaran tanpa merasa terancam, menerima kritik tanpa merasa hancur, dan menerima perbedaan tanpa merasa bermusuhan.
Maka, sebelum kita sibuk membenahi cara kita berbicara kepada orang lain, ada baiknya kita mulai membenahi cara kita berbicara kepada diri sendiri. Karena dari sanalah semuanya dimulai. Dari suara yang paling dekat, yang paling sering terdengar, tapi paling jarang didengar. Suara kita sendiri.
Penulis: Desnas Artanti (Mahasiswa Pasca Sarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri, Purwokerto)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....