Gus Yusuf dan Desa Dawuhan Kulon, Sepengal Transisi Intelektual Seorang Tokoh

  • 25 Agt 2026 08:08 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas Salah satu mata rantai yang relatif kurang mendapat perhatian dalam biografi KH Muhammad Yusuf Chudlori adalah fase mukimnya di Pesantren API Salaf Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedung Banteng, Banyumas. Berdasarkan konfirmasi langsung dari Gus Yusuf, fase tersebut berlangsung sekitar tahun 1995–1996, setelah masa pendidikan panjangnya di Lirboyo dan sebelum melanjutkan rihlah keilmuan ke Bulus Pesantren, Kebumen.

Secara genealogis, API Dawuhan Kulon merupakan bagian dari jaringan keilmuan yang memiliki hubungan erat dengan API Tegalrejo. Pengasuhnya, KH Imam Turmudzi (Kiai Tarmadi), dikenal sebagai santri KH Chudlori dan termasuk generasi awal yang membawa tradisi keilmuan Tegalrejo ke wilayah Banyumas.

Dengan demikian, perpindahan Gus Yusuf ke Dawuhan Kulon tidak dapat dipahami sebagai perpindahan keluar dari orbit Tegalrejo, melainkan sebagai proses pendalaman tradisi dalam salah satu simpul jaringan intelektual yang berasal dari sumber sanad yang sama.

Dawuhan Kulon dan Lingkungan Sosial Banyumas Menjelang Reformasi

Dawuhan Kulon tidak hanya menarik karena posisi genealogisnya dalam jaringan pesantren. Secara historis, periode 1995–1996 merupakan masa ketika Indonesia memasuki fase akhir pemerintahan Orde Baru. Pada periode tersebut berkembang berbagai diskursus mengenai demokratisasi, hak asasi manusia, masyarakat sipil, kebudayaan, dan reformasi politik yang beredar melalui jaringan intelektual, organisasi kemahasiswaan, lembaga swadaya masyarakat, dan media alternatif.

Dalam konteks Banyumas, terdapat interaksi yang cukup dinamis antara komunitas pesantren, kalangan akademik Purwokerto. Aktivis mahasiswa, dan jaringan masyarakat sipil yang memiliki keterhubungan dengan perkembangan wacana nasional.

Karena itu, keberadaan seorang santri muda dari Tegalrejo di lingkungan Dawuhan Kulon pada masa tersebut patut dipahami bukan hanya dalam konteks pendidikan pesantren formal, tetapi juga dalam konteks perjumpaannya dengan lingkungan sosial yang sedang mengalami dinamika intelektual yang cukup intens.

Kesaksian Sejarah Lisan dan Indikasi Perluasan Horizon Intelektual

Sejumlah kesaksian sejarah lisan yang berhasil dihimpun penulis, menunjukkan bahwa selama masa mukim di Dawuhan Kulon, Gus Yusuf memiliki intensitas diskusi yang cukup tinggi dengan beberapa tokoh lokal di Purwokerto (Banyumas) yang memiliki keterhubungan dengan jaringan intelektual dan gerakan masyarakat sipil di Jakarta. Tema-tema yang muncul dalam interaksi tersebut tidak terbatas pada persoalan keagamaan dan kepesantrenan, melainkan juga meliputi perkembangan politik nasional, teori sosial, kebudayaan, filsafat pengetahuan, serta dinamika gerakan reformasi yang sedang berkembang pada masa itu.

Tentu saja, kesaksian tersebut tidak dapat serta merta digunakan untuk menarik kesimpulan kausal bahwa orientasi pemikiran Gus Yusuf dibentuk oleh satu lingkungan tertentu. Akan tetapi, data tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa fase Dawuhan Kulon merupakan salah satu periode ketika seorang santri yang telah memiliki fondasi keilmuan pesantren yang kuat mulai berinteraksi secara lebih intensif dengan spektrum wacana sosial yang lebih luas.

Dalam perspektif sejarah intelektual, fase Dawuhan Kulon dapat dipahami sebagai apa yang disebut sebagai contact zone atau "zona perjumpaan". Yaitu suatu ruang sosial tempat berbagai tradisi pengetahuan bertemu, berinteraksi, dan saling mempengaruhi.

Dalam kasus Gus Yusuf, terdapat setidaknya tiga arus yang bertemu dalam ruang tersebut: Pertama, tradisi keilmuan pesantren yang diwarisi melalui jaringan Tegalrejo dan Lirboyo. Kedua, tradisi keagamaan lokal Banyumas yang dikenal memiliki karakter sosial dan kultural yang relatif terbuka. Ketiga, arus pemikiran masyarakat sipil dan reformasi yang berkembang menjelang perubahan politik nasional tahun 1998.

Perjumpaan ketiga arus tersebut tidak serta-merta menghasilkan perubahan ideologis tertentu, tetapi memungkinkan terjadinya perluasan horizon intelektual yang kelak menjadi modal penting dalam kiprah sosial dan organisasi.

Dari Santri Kelana menuju Kiai Publik

Jika fase Lirboyo dapat dipandang sebagai periode pendalaman disiplin keilmuan, maka fase Dawuhan Kulon tampaknya lebih tepat dipahami sebagai periode perluasan cakrawala sosial. Kombinasi antara kedalaman tradisi pesantren dan keterbukaan terhadap persoalan masyarakat inilah yang kemudian tampak dalam berbagai kiprah Gus Yusuf pada periode-periode berikutnya, baik dalam pengembangan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, aktivitas kebudayaan, maupun keterlibatan dalam ruang publik.

Dalam kerangka tersebut, Dawuhan Kulon bukan sekadar lokasi persinggahan dalam rihlah keilmuan Gus Yusuf. Ia dapat dipahami sebagai salah satu mata rantai penting dalam proses transformasi seorang santri pengembara ilmu menjadi figur kiai publik yang mampu berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.

"Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa fase Dawuhan Kulon (1995–1996) merupakan salah satu ruang transisi yang mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan horizon sosial yang lebih luas dalam proses pembentukan kepemimpinan Gus Yusuf."

*Hidayaturohman, Putra kelahiran Desember 1967 di Dawuhan Kulon, Kedung Banteng - Banyumas; Ketua PB PMII periode 1994-1997; Sekretaris PP LP Ma'arif NU masa bakti 1995-1999.

Ditulis oleh Hidayaturohman

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....