Perbedaan Bukan Penghalang Mewujudkan Kerukunan dalam Beragama

  • 16 Jul 2026 15:24 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Perbedaan pandangan dan keberagaman di tengah masyarakat kerap kali memicu gesekan sosial serta perdebatan di media sosial yang merusak silaturahmi. Menyikapi hal tersebut, sikap bijak dan kedewasaan dalam beragama menjadi kunci utama untuk meredam ego serta menciptakan kedamaian hidup bersama.

Hal itu disampaikan oleh penceramah Drs. K.H. Achmad Kifni dalam program religi "Mutiara Pagi" di Pro 1 FM Purwokerto, pada Kamis, 2 Juli 2026 lalu. Ia memaparkan sembilan pedoman praktis bagi umat dalam menghadapi perbedaan agar keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Pedoman tersebut meliputi sikap saling menghormati, memasrahkan hasil perbedaan kepada Allah, mendewasakan diri, memandang perbedaan sebagai lingkup ibadah, fokus pada titik kesamaan. Selain itu tidak merasa paling benar sendiri, berharap keridhaan Allah atas perbedaan, mengedepankan sikap lapang dada (tasamuh), dan memastikan perbedaan bersifat ilmiah berdasarkan ilmu, bukan hawa nafsu.

"Kalau tidak sama kok bertengkar, itu anak kecil, tetapi bagi orang yang sudah dewasa di dalam beragama, terutama dia akan bersikap biasa berbeda itu," ujar ustaz Kifni. Terkait maraknya ego kelompok yang kerap menjadi tembok besar dalam masyarakat, ustaz Kifni mengingatkan agar umat senantiasa mengedepankan ruang musyawarah dan diskusi sehat (mujadalah).

Mengutip kaidah agama, ia menekankan bahwa mengklaim kebenaran secara mutlak mutlak demi kepentingan kelompok merupakan cerminan dari kedangkalan berpikir. "Benar boleh, tetapi jangan merasa paling benar sendiri," tegasnya.

"Cukup orang dikatakan bodoh kalau merasa pendapatnya sendiri yang paling benar, jadi dengan demikian berbaik-baiklah mencari kebenaran, bukan bendera, bukan identitas." jelas ustaz Kifni. Ia juga memberikan jawaban menyejukkan saat menanggapi pertanyaan pendengar, mengenai konsep kebenaran tunggal dalam ibadah, seperti perbedaan kaifiyah atau tata cara shalat.

Menurutnya, perbedaan yang memiliki landasan dalil dan rujukan yang sah dari Al-Qur'an maupun Hadist semuanya bernilai benar di mata hukum Islam. "Si A benar menurut pendapatnya, si B benar menurut pendapatnya, dua-duanya ada ilmunya, jadi yang pelan dan yang keras dua-duanya benar," jelas ustaz Kifni memberikan analogi pembacaan basmalah saat shalat jamaah..

"Siapa tahu yang Anda merasa benar tidak diterima oleh Allah, siapa tahu yang saudara salahkan malah itu yang diterima oleh Allah." ungkap ustaz Kifni. Sebagai penutup acara, ustaz Kifni mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya umat Islam, untuk memperluas wawasan kebangsaan dan keagamaan.

Keberagaman dan perbedaan penafsiran tidak semestinya memutuskan tali persaudaraan. "Persaudaraan tidak harus sama, tapi sama-sama mengabdi kepada Allah, mari bersama-sama kita untuk berbeda tetapi ilmiah, bukan berbeda tetapi hawa nafsu," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....