Desa Wisata Purbalingga, Jaga Tradisi Sekaligus Gerakkan Ekonomi Desa

  • 03 Jul 2026 14:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga: Di tengah perubahan tren pariwisata yang terus bergerak menuju wisata berbasis pengalaman atau experience tourism, desa wisata kini menjadi salah satu harapan baru bagi penguatan ekonomi masyarakat pedesaan. Di Kabupaten Purbalingga, geliat pengembangan desa wisata menunjukkan arah yang menjanjikan.

Namun, tantangan untuk naik kelas sekaligus menjaga identitas lokal masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dijawab bersama. Saat ini, Purbalingga memiliki 32 desa wisata dengan berbagai tingkat perkembangan.

Sebagian besar masih berada pada tahap rintisan dan berkembang, sementara baru satu desa wisata yang telah menyandang kategori maju, yakni Desa Wisata Serang. Fakta ini menunjukkan bahwa potensi desa wisata di Purbalingga cukup besar, tetapi belum seluruhnya berkembang optimal.

Kehadiran desa wisata sejatinya bukan sekadar menambah daftar destinasi kunjungan. Lebih dari itu, desa wisata menjadi model pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.

Dampaknya dapat dirasakan secara langsung oleh warga desa, mulai dari terbukanya lapangan pekerjaan, tumbuhnya usaha mikro kecil menengah (UMKM), berkembangnya produk oleh-oleh, hingga peluang usaha homestay dan jasa wisata. Inilah kekuatan utama desa wisata: ekonomi berputar di desa itu sendiri.

Ketika wisatawan datang, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi. Uang yang dibelanjakan wisatawan untuk kuliner, penginapan, kerajinan tangan, hingga paket wisata akan kembali menghidupi warga sekitar.

Namun demikian, pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam atau potensi lokal yang sudah tersedia. Diperlukan inovasi, pengelolaan yang profesional, serta kemampuan membaca tren wisata yang terus berubah.

Wisatawan masa kini mulai bergeser dari pola wisata massal menuju pengalaman yang lebih personal. Mereka ingin menikmati suasana desa, berinteraksi dengan warga, belajar budaya lokal, mencicipi kuliner khas, hingga merasakan tinggal di homestay atau glamping di tengah alam.

Dalam konteks ini, desa wisata Purbalingga sebenarnya memiliki peluang besar jika mampu mengemas pengalaman tersebut menjadi daya tarik yang autentik. Namun tantangan terbesar justru ada pada keberlanjutan.

Tidak sedikit desa wisata di berbagai daerah mengalami stagnasi karena minim inovasi, lemahnya pengelolaan, atau keterbatasan sumber daya manusia. Karena itu, pelatihan bagi pengelola wisata, penguatan kelembagaan, hingga promosi digital menjadi langkah penting yang perlu terus diperkuat.

Keterbatasan anggaran pemerintah daerah juga menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam pembangunan infrastruktur pendukung. Jalan akses, fasilitas umum, hingga konektivitas digital masih menjadi faktor penting dalam menentukan kenyamanan wisatawan.

Maka, kolaborasi antara pemerintah daerah, provinsi, pusat, hingga pihak swasta menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Di sisi lain, satu hal yang tidak boleh hilang dalam pengembangan desa wisata adalah kearifan lokal.

Jangan sampai semangat mengejar kunjungan wisatawan justru membuat identitas desa terkikis. Budaya, tradisi, kesenian, hingga pola hidup masyarakat pedesaan justru menjadi nilai jual utama yang membedakan desa wisata dari destinasi lain.

Karena itu, pengembangan desa wisata seharusnya tidak hanya mengejar angka kunjungan atau pendapatan ekonomi, tetapi juga menjadi ruang untuk melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jika mampu terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri, desa wisata di Purbalingga bukan tidak mungkin akan semakin banyak yang naik kelas. Dan ketika desa tumbuh melalui pariwisata, maka kesejahteraan masyarakat pun berpeluang ikut meningkat secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....