Dari Kampus ke Wisata, Peran Prodi Bahasa dan Sastra di Era Industri Global
- 30 Apr 2026 21:50 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Wacana penutupan program studi yang dinilai “tidak relevan dengan kebutuhan industri” oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memunculkan berbagai pertanyaan, seperti “Bagaimana sebenarnya mendefinisikan “relevansi” dalam pendidikan tinggi?”
Dalam kebijakan yang menekankan pentingnya link and match dengan DUDI (dunia usaha dan dunia industri), program studi Bahasa dan Sastra seringkali ditempatkan dalam posisi rentan. Program studi bahasa dan sastra dinilai kurang praktis dan tidak relevan dengan kebutuhan industri karena tidak berkontribusi secara langsung.
Namun, anggapan tersebut tidak mewakili posisi strategis program studi bahasa dan sastra. Dalam perkembangan global yang semakin berbasis informasi, komunikasi, dan digitalisasi, bahasa justru memainkan peran yang sangat penting. Bahasa tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai struktur internal yang memungkinkan pertukaran nilai, gagasan, ideologi, dan identitas antarbangsa.
Dalam konteks ini, penggunaan bahasa Inggris sebagai lingua franca global mampu menjembatani interaksi lintas sektor, seperti sektor bisnis, budaya, dan pariwisata. Kurikulum dalam program studi Bahasa dan Sastra tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga dengan kemampuan analisis, literasi kritis, sensitivitas budaya, serta keterampilan untuk memroduksi wacana. Kompetensi-kompetensi ini menjadi relevan dalam era ekonomi kreatif dan digital, di mana narasi menjadi kekuatan utama dalam membentuk persepsi dan menarik perhatian pasar global.
Salah satu sektor yang mengimplementasikan peran bahasa adalah sektor pariwisata. Kementerian Pariwisata menempatkan promosi sebagai pilar utama dalam pengembangan destinasi wisata. Contohnya, Kementerian Pariwisata menggunakan promosi sebagai unsur penting dalam mengenalkan lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang, kepada masyarakat luas. Tingkat okupansi dan kunjungan destinasi wisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam atau infrastruktur yang dipunyai, tetapi juga pada bagaimana narasi tentang destinasi tersebut dikomunikasikan kepada dunia. Peran strategis bahasa, terutama bahasa Inggris, menjadi penting dalam hal ini.
Untuk mempromosikan destinasi wisata, narasi yang ditampilkan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga harus memainkan peran persuasif dan imajinatif untuk meningkatkan ketertarikan wisatawan untuk berkunjung. Bahasa sebagai media komunikasi dan promosi pariwisata berperan strategis dalam memberikan deskripsi, melakukan interaksi dengan wisatawan dalam bentuk konten media sosial dan juga interaksi langsung. Tanpa penggunaan bahasa yang baik, potensi okupansi destinasi wisata di Indonesia akan menurun karena wisatawan tidak mendapatkan informasi dan detail yang optimal.
Bahasa juga merupakan bagian integral dari rantai nilai dalam ekonomi kreatif dan sektor pariwisata. Perencanaan branding, produksi konten, layanan pelanggan, kemampuan komunikasi lintas sektor merupakan elemen penting untuk membentuk persepsi wisatawan akan destinasi wisata. Program studi bahasa dan sastra mengimplementasikan elemen tersebut dalam kurikulum yang akan menjadi penghubung antara penyedia destinasi dan wisatawan serta antara potensi lokal dan pasar global.
Melihat urgensi peran bahasa dan sastra dalam sektor ekonomi di Indonesia, pertanyaannya tidak hanya akan terbatas pada “Apakah program studi bahasa dan sastra relevan?”, tetapi menjadi “Bagaimana relevansi program studi bahasa dan sastra dikelola untuk mendukung kebutuhan industri?” Integrasi keterampilan digital, komunikasi, dan informasi dalam bidang ekonomi kreatif, seperti copywriting, English for Specific Purpose, dapat menjembatani dunia akademik dan dunia profesional industri secara lebih nyata. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemampuan “berbicara” kepada dunia bukan lagi menjadi pilihan, tetapi menjadi kebutuhan untuk membangun citra, menyampaikan identitas dan pandangan, serta berkompetisi di level global.
Dari kampus ke destinasi wisata, dari teori ke praktik, program studi bahasa dan sastra mengintegrasikan teori dan praktik yang digunakan destinasi wisata untuk membentuk citra destinasi yang dikenal luas. Maka, program studi bahasa dan sastra menjadi komponen penting untuk memperkuat daya saing nasional di era industri global.
Penulis: Eka Dyah Puspita Sari, S.Pd., M.Hum., Mia Fitria Agustina, S.S., M.A., Dr. Ririn Kurnia Trisnawati, S.S., M.A., Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum. (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Unsoed)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....